Rabu, 30 Juli 2025

Kewajiban Mengikuti Hukum Allah

 بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ


Kajian rutin Musholla Baiturrahman, Syarah Riyadhus Shalihin BAB Kewajiban Mengikuti Hukum Allah

Ust. Syarif Hidayatullah S.Ag


Hadist ke 195 :

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, "Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menerima ayat 'Lillaahi maa fis samaawaati wamaa fil ardh wa intubduu maa fii anfusikum au tukhfuuhuyhaasibkum bihillaah' (Kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan jika kamu mengungkapkan apa yang ada di dalam hatimu atau menyembunyikannya niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu). 

Para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam merasa berat dengan ayat tersebut. Kemudian, mereka menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sambil berjongkok dan berkata, 'Wahai Rasulullah, kami dapat melakukan amal-amal perbuatan yang dibebankan kepada kami dari yang sekuat tenaga yaitu shalat, jihad, berpuasa, dan sedekah tetapi mengenai kandungan ayat ini kami merasa tidak mampu melaksanakannya. Beliau bersabda 'Apakah kamu akan berkata seperti yang dikatakan oleh para Ahli Kitab sebelummu? Mereka mengatakan 'Kami mendengar dan kami melanggarnya' Janganlah seperti mereka, tetapi katakanlah, 'Sami'naa wa atha'naa ghafraanaka rabbanaa wailaikal mashir' (Kami nendengar dan kami mentaatinya Ampunilah kami wahai Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali).

Ketika ayat tersebut dibaca dan lidah mereka terasa ringan untak membaca kemudian Allah menurunkan ayat selanjutnya, 'Amanar rasuulu bimaa unzila ilaihi min rabbihi wal mu'minuuna kullun aamana billaahi wa malaaikatihi wa kutubihi warusulihi laa nufariqu baina ahadim mirrusulihi wa qaaluu sami'naa wa atha'naa ghufraanaka rabbanaa wa ilaikal mashiir.' (Rasul telah beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikal Nya, Kitab-kitab Nya dan Rasul-rasul Nya' (mereka mengatakan),' Kami tidak membeda-bedakan antara seorang (dengan yang lain) dari Rasul-Rasul Nya dan mereka mengatakan' Kami mendengarkan dan kami menaati'. Mereka berdoa 'Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali). 'Ketika mereka telah melakukan kandungan ayat tersebut, kemudian Allah Ta'ala me-mansukh-kan ayat sebelumnya dengan ayat sesudahnya, yaita 'Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus'ahaa lahaa maa kasabat wa'alaihaa maktasabat Rabbanaa laatuaakhidznaa in nasiina au akhtha'naa' (Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesangupannya ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya (Mereka berdoa), 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah).

Dijawab, 'Ya Rabbanaa walaa tahmil 'alainaa ishran kamaa harnaltahuu 'alal ladziina min qablinaa' (Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami). Dijawab, 'Ya Rabbanaa walaa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bih' (Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak sanggup memikulnya). Dijawab, 'Ya Wa'fu 'annaa waghfir lanaa warhamnaa anta maulaanaa fanshurnaa'alal qaamil kaafiriin'. (Maafkanlah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir). (Al-Baqarah:284-286) Dijawab, 'Ya'." (Diriwayatkan Muslim)

Menurut para sahabat, tuntutan yang ada pada ayat ini sangat berat, sehingga tidak seorang pun kuat menahan hatinya untuk tidak berbicara tentang berbagai macam perkara yang jika dihitung, maka binasalah manusia. Nabi shallallahu Alaihi wa sallam bersabda, 'Apakah kamu akan berkata seperti yang dikatakan oleh para Ahli Kitab sebelummu? Mereka mengatakan,' Kami mendengar dan kami melanggarnya''. Yang dimaksud dengan Ahlul Kitab di sini adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Kitab orang Yahudi adalah Thurat, yaitu kitab yang paling mulia setelah Al-Qur'an. Sedangkan kitab orang Nasrani adalah injil, yaitu kitab penyempurna Thurat. Tetapi orang-orang Yahudi dan Nasrani itu menentang nabi-nabi mereka dan berkata, "Kami mendengar dan kami melanggar." Apakah kalian ingin menjadi seperti mereka? Janganlah seperti mereka.

Demikianlah yang seharusnya dilakukan seorang Muslim jika mendengar perintah Allah dan Rasul-Nya, yaitu mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat" Setelah itu, mengerjakan sesuai dengan kemampuannya karena Allah tidak membebani seseorang dengan sesuatu yang tidak kuasa dilakukannya.

Ini menunjukkan betapa besarnya pengagungan para sahabat terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya. Adapun kita tidak seperti itu, tetapi jushu mengatakan, "Perintah ini wajib ataukah sunah, Larangan ini haram ataukah makruh. Jika sampai hal ini terjadi, tanyalah dirimu sendiri, apakah dengan itu kamu berdosa atau kah tidak? Jika kamu merasa berdosa, maka kamu harus segera bertaubat dan jika tidak berdosa berarti kamu merasa agak sedikit lega. Oleh karena itu, jika diajukan sebuah perintah kepadamu janganlah kamu bertanya apakah ini wajib ataukah sunah, seperti yang dilakukan para sahabat terhadap Rasulullah Shallallahu Aloihi wa Sallam. Mereka melakukan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang.

Namun demikian, kami berikan kabar gembira kepada Anda tentang sebuah hadits yang disabdakan Nabi bahwa "sesungguhnya Allah memaafkan kepada umatku apa yang terbetik di dalam hatinya selama tidak dikerjakan atau dibicarakan." Alhamdulillah, berarti segala dosa yang terbetik di dalam hatimu diampuni Allah, selama kamu tidak melakukannya dan tidak membicarakannya hingga walaupun lebih besar dari gunung.

Kita patut memuji. Bahkan, sebagian sahabat berkata, "Ya Rasulullah, kami dapati dalam diri kami ada seperti bara api, tetapi kami tidak membicarakannya. " Rasulullah Shalla llahu Alaihi wa Sallam menjawab, " Itulah keimanan yang murni." Setan tidak akan membisikkan gangguan itu ke dalam hati yang rusak dan hati yang di dalamnya ada keraguan, tetapi gangguan itu akan dilemparkan ke dalam hati seorang Mukmin yang bersih untuk merusaknya.

Ketika ditanyakan kepada Ibnu Abbas atau lbnu Mas'ud, "Sesungguhnya orang Yahudi jika masuk ke dalam shalat atau ibadahnya, mereka tidak diganggu." Dia menjawab, "Setan tidak mengganggu hati orang yang rusak. orang-orang Yahudi dan Nasrani, hati mereka rusak sehingga setan tidak mengganggu mereka ketika shalat, karena pada dasarnya hati mereka telah rusak. setan hanya mengganggu hati seorang Muslim yang shalatnya benar dan diterima, untuk merusaknya. Dia akan mendatangi orang Mukmin yang keimanannya benar untuk merusak keimanan itu' AlhamdulilLah, orang yang diberi kesucian hati dan badan oleh Allah, yaitu Muhammad, telah menjelaskan kepada kita cara mengobati dan menyelesaikannya. Oleh karena itu, beliau menyuruh kita agar memohon perlindungan kepada Allah dan pasrah kepada-Nya. Jika seseorang merasakan adanya gangguan setan ini, maka dia membaca, "A’uudzu billahi min asy-sya ithaan ar-rajiim." (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk) untuk berpaling darinya dan agar tidak condong kepadanya lagi. Setelah itu, lanjutkan aktivitasmu. Jika setan melihat bahwa tidak ada jalan baginya untuk merusak hati seorang Mukmin yang bersih, dia akan kalah dan pergi.

Allah tidak membebani sesuatu yang berada di luar kemampuan manusia dan tidak kuasa mereka kerjakan, seperti gangguan yang ada di dalam hati. Akan tetapi, jika seseorang belum melaksanakannya, tidak mempercayainya, dan tidak mengaplikasikannya, maka dia tidak berdosa karena hal itu berada di luar kekuasaannya.

Oleh karena itu, Allah tidak membebani dalam syariatnya sesuatu yang tidak kuasa dilakukan manusia. Jika dia tidak kuasa melakukan sesuatu, dia boleh bergeser kepada penggantinya jika kewajiban itu ada penggantinya atau gugur jika tidak ada penggantinya. Adapun ketika diminta agar tidak memberikan beban yang tidak kuasa dipikul, maka Allah menjawab, "Ya, Aku tidak akan membebanimu dengan sesuatu yang kamu tidak kuasa memikulnya.

Ketiga kalimat: maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami, masing-masing kalimat mempunyai makna. 

  1. Maafkanlah kami maksudnya maafkanlah kami karena kekurangan kami dalam menjalankan kewajiban.
  2. Ampunilah kami karena kami melanggar perbuatan haram.
  3. Rahmatilah kami untuk melakukan amal salih. 

Setiap manusia, kalua tidak mengerjakan kewajiban, pasti melanggar hal-hal yang diharamkan.

Jika dia meninggalkan kewajiban, maka dia berkata, "Ampunilah kami atas dosa yang kami perbuat" atau meminta penguat, pendukung, dan penyemangat dalam kebaikan. Dengan demikian, ketiga kalimat itu memiliki makna sendiri-sendiri. "Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami, engkaulah penolong kami," atau penolong kami dalam urusan dunia dan akhirat, maka tolonglah kami di dunia dan tolonglah kami untuk mengalahkan orang-orang kafir.

"Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir", kadang orang mengira bahwa yang dimaksud dengan musuh-musuh kami di sini adalah orang-orang kafir, tetapi sebenamya cakupannya lebih umum lagi sehingga mencakup kemenangan atas setan, karena setan adalah pemimpin orangorang kafir.

Jadi, dari ayat yang terakhir ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa Allah tidak akan membebani kita dengan sesuatu yang kita tidak kuasa menanggungnya dan Allah tidak akan membebani kita dengan beban yang berat. Sesungguhnya gangguan yang ada dalam hati kita, selama kita tidak melaksanakannya, tidak merasa tenang dengannya, dan tidak mengatakannya, maka hal itu tidak berbahaya bagi kita.


Wallahu a'lam

Senin, 28 Juli 2025

Ahlus Sunnah Senantiasa Melakukan Tashfiyah dan Tarbiyah Bagi Kembalinya Kemuliaan Islam

 بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ


Kajian Sunnah rutin Musholla Baiturrahman 27 Juli 2025 :

Ust. Hidayat Husein


A. Penyebab Terhinanya Kaum Muslimin

Penyebab tetapnya kaum Muslimin pada kondisi mereka yang terpuruk berupa kehinaan dan penindasan kaum kafir terhadap sebagian dunia Islam, penyebabnya bukanlah karena mayoritas ulama Islam tidak memahami fiqhul waqi’ (fiqih realita) atau tidak mengetahui rencana-rencana dan tipu daya orang-orang kafir sebagaimana anggapan sebagian orang.

Adalah sebuah kesalahan yang sangat nyata dan kekeliruan yang amat jelas apabila mencurahkan perhatian secara berlebihan terhadap fiqhul waqi’, hingga menjadikannya sebagai manhaj bagi para da’i dan generasi muda, di mana mereka membina dan terbina di atasnya dengan menganggapnya sebagai ‘jalan keselamatan’?

Sedangkan suatu hal yang telah menjadi kesepakatan para fuqaha’ dan tidak terdapat perbedaan di antara mereka, bahwa penyebab yang paling mendasar bagi kehinaan kaum Muslimin sehingga terhenti perjalanan mereka (untuk terus maju) adalah:

  • Kejahilan/kebodohan kaum Muslimin terhadap Islam yang diturunkan Allah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Gozali mengatakan juga penyebab Islam mengalami kemunduran karena umat Islam mulai meninggalkan agamanya.
  • Mayoritas kaum Muslimin yang mengetahui hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan berbagai kepentingan mereka, tidak melaksanakannya, mereka cenderung meremehkan, menggampangkan dan menyia-nyiakannya.

B. Jalan untuk Mencapai Kemuliaan Islam Tashfiyah dan tarbiyah adalah kata kunci bagi kembalinya kemuliaan Islam, dengan cara penerapan ilmu yang bermanfaat dan pengamalannya. 

Keduanya adalah perkara yang mulia, tidak mungkin kaum Muslimin dapat mencapai kejayaan dan kemuliaan kecuali dengan menerapkan metode ‘tashfiyah’ dan ‘tarbiyah’ yang merupakan kewajiban besar yang amat penting.

Kewajiban yang pertama adalah tashfiyah. Yang dimaksudkan dengan tashfiyah (pemurnian) adalah: 

  1. Pemurnian ‘aqidah Islam dari suatu yang tidak dikenal dan telah menyusup masuk ke dalamnya, seperti kemusyrikan, pengingkaran terhadap sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala atau penakwilannya, penolakan hadits-hadits shahih yang berkaitan dengan ‘aqidah dan lain sebagainya.
  2. Pemurnian ibadah dari berbagai macam bid’ah yang telah mengotori kesucian dan kesempurnaan agama Islam.
  3. Pemurnian fiqh Islam dari segala bentuk ijtihad yang keliru dan menyelisihi Al-Qur-an dan As-Sunnah, serta pembebasan akal dari pengaruh-pengaruh taqlid dan kegelapan sikap fanatisme (jumud).
  4. Pemurniaan kitab-kitab tafsir Al-Qur-an, fiqh, kitab-kitab yang berhubungan erat dengan raqaa’iq (kelembutan hati) dan kitab-kitab lainnya dari hadits-hadits lemah dan palsu, serta dongeng Israiliyyat dan kemungkaran lainnya. Dan kewajiban yang kedua adalah tarbiyah, yaitu pem-binaan generasi Muslim di atas Islam yang telah dibersihkan dari hal-hal yang telah disebutkan di atas, dengan sebuah pembinaan secara Islami yang benar sejak usia dini tanpa terpengaruh oleh pendidikan ala barat yang kafir.


Tidak diragukan lagi bahwasanya upaya untuk mewujudkan kedua kewajiban ini, memerlukan dan menuntut kesungguhan yang memadai, saling bahu membahu antara kaum Muslimin seluruhnya dengan penuh keikhlasan, baik secara kolektif mau-pun individual (perseorangan).

Sikap ini sangat diperlukan dari semua komponen masya-rakat yang benar-benar berkepentingan untuk menegakkan sebuah masyarakat yang Islami yang menjadi idaman, di setiap negeri yang telah rapuh pilar-pilarnya, semua pihak bekerja pada bidang dan spesialisasinya masing-masing.

Maka, bagi para ulama yang mengetahui hukum-hukum Islam yang benar, harus sungguh-sungguh mencurahkan perhatian mereka, mengajak kaum Muslimin kepada pemahaman Islam yang benar, baik ‘aqidah maupun manhaj, serta memaham-kannya kepada kaum Muslimin. Kemudian ditindaklanjuti dengan pembinaan mereka di atas pemahaman tersebut, seperti yang telah difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَٰكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ

“Akan tetapi (dia berkata): ‘Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.’” [Ali ‘Imran/3: 79]

Inilah jalan satu-satunya dalam pemecahan problematika ummat yang dikandung oleh ayat-ayat Al-Qur-an dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana firman Allah Subhnahu wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” [Muhammad/47: 7]

Merupakan sebuah kesepakatan yang tidak ada perbedaan diantara kaum Muslimin tentang ayat tersebut, bahwa makna firman Allah: “Jika kamu menolong (agama) Allah” adalah: “Jika kamu mengerjakan apa-apa yang diperintahkan-Nya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolong kamu dari musuh-musuhmu.”

Di antara nash-nash yang mendukung makna ini dan sangat sesuai dengan realita saat ini, dimana dalam nash tersebut telah digambarkan ‘jenis penyakit’ dan sekaligus ‘cara terapinya’ secara bersamaan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ.

“Jika kalian telah berjual beli dengan sistem ‘Bai’ul ‘Iinah’ (yaitu seorang penjual menjual barangnya dengan cara ditangguhkan, kemudian ia membeli kembali barangnya dari orang yang telah membeli barangnya tersebut dengan harga yang lebih sedikit dari yang ia jual, namun ia membayar harganya dengan kontan sesuai dengan kesepakatan) dan kalian telah memegang ekor-ekor sapi dan ridha dengan pekerjaan bertani serta meninggalkan jihad (di jalan Allah), niscaya Allah akan menjadikan kehinaan menguasai kalian, Dia tidak akan mencabutnya dari kalian, hingga kalian kembali kepada agama kalian.”[2]

Maka, penyakit yang melanda kaum Muslimin bukanlah karena kejahilannya terhadap suatu ilmu tertentu namun harus dikatakan bahwa semua disiplin ilmu yang bermanfaat bagi kaum Muslimin adalah wajib, sesuai dengan porsinya. Akan tetapi kehinaan, dan kerendahan yang dijumpai mereka bukan karena kejahilan mereka tentang apa yang dinamakan fiqhul waqi’, namun penyebabnya adalah sikap mereka yang menggampangkan dan meremehkan pengamalan hukum-hukum agama, baik yang termaktub dalam Al-Qur-an maupun Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Sabda Nabi: “إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالعِيْنَةِ (jika kamu berjual beli dengan sistem bai’ul ‘inah),”[3] adalah sebuah isyarat dari beliau yang menunjukkan salah satu jenis mu’amalah yang bermuatan riba, dan memakai siasat (tipu daya) terhadap syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Sabda beliau: “وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ (dan kalian telah mengambil (memegang) ekor-ekor sapi),” merupakan isyarat dari beliau yang menunjukkan perhatian yang difokuskan kepada urusan-urusan duniawi, dan kecenderungan kepadanya, serta tidak adanya perhatian terhadap syariat dan hukum-hukumnya. Seperti itu pula yang diisyaratkan oleh sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ (dan kamu telah ridha dengan pekerjaan bertani).”


Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ (kamu telah meninggalkan jihad),” sebagai buah dari sikap ingin hidup kekal di dunia ini, sebagai-mana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ ۚ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: ‘Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah,’ kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu. Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.’” [At-Taubah/9: 38]


Dan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ.

“Niscaya Allah akan menjadikan kehinaan menguasai kamu, Dia tidak akan mencabutnya dari kalian, hingga kalian kembali kepada agama kalian.”

Mengisyaratkan secara jelas bahwasanya ‘agama’ yang merupakan kewajiban kita untuk kembali kepada-Nya, adalah agama yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada beberapa ayat yang mulia.


Firman Allah Ta’ala:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” [Ali ‘Imran/3: 19]


Juga firman-Nya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” [Al-Maa-idah/5: 3][4]

Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah tashfiyah dan tarbiyah adalah manhaj yang benar. Dalam pelaksanaannya memang membutuhkan waktu yang lama. Maka, hal ini harus dilaksanakan dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih serta dengan penuh kesabaran. Sebab dengan ilmu, amal shalih dan kesabaran, Allah l akan memberikan kemenangan kepada ummat Islam.


Wallahu a'lam

Buku : Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah -> Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas Rahimahullah

Selasa, 22 Juli 2025

Mencium Hajar Aswad karena contoh dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

 بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ


Kajian rutin Musholla Baiturrahman 23 Juli 2025, Syarah Riyadhus Shalihin BAB Perintah Menjaga Sunah dan Adab Rasulullah

Ust. Syarif Hidayatullah, S.Ag

Hadist ke 158:

Dari Aabis bin Rabi'ah, dia berkata, "Saya pernah melihat Umar bin Khaththab Radhilallahu Anhu mencium Hajar Aswad seraya berkata, 'Aku tahu kamu adalah batu Kamu tidak bisa memberi manfaat dan tidak pula membahayakan. Seandainya aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menciummu, tentu aku pun tidak akan menciummu." (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim).


Hajar Aswad adalah batu yang berasal dari surga, yang pada awalnya warna dari batu itu adalah putih, menjadi hitam karena dosa-dosa anak cucu adam.


Umar Radhiyallahu Anhu menjelaskan bahwa dia mencium Hajar aswad itu karena mengikuti Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sehingga beliau berkata, "Seandainya aku tidak pemah melihat Rosulullah Shallallohu Alaihi wa Sallam menciummu, tentu aku pun tidak akan menciummu." Artinya, saya menciummu karena mengikuti sunah, bukan mengharapkan manfaat atau takut kepada bahaya, tetapi karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan hal tersebut. Oleh Karena itu, tidak disyariatkan untuk mencium bagian dari Ka'bah itu, kecuali Hajar Aswad saja, sedangkan Rukun Yamani cukup diusap, bukan dicium.

Sedangkan Hajar aswad, yang paling baik adalah diusap dan dicium, yaitu diusap dengan tangan kanan dan dicium, jika tidak bisa menciumnya, cukup melambaikan tangan dan mengusapnya dengan tangan kanan.

Jika tidak mungkin, cukup dengan memberikan isyarat dengan tangannya, tetapi tidak mencium sesuatu yang digunakan untuk memberikan isyarat karena sesuatu yang digunakan untuk memberikan isyarat itu tidak menyentuh Hajar Aswad, apalagi menciumnya.

Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa kesempurnaan ibadah adalah dengan tunduk dan patuh kepada Allah, baik dia mengetahui sebab dan hikmah dalam pensyaratannya maupun tidak. Jika dikatakan kepada seorang Mukmin, "Kerjakan!" Hendaklah dia mengatakan, "Kami mendengar dan taat." Jika kamu mengetahui hikmahnya, maka itu merupakan cahaya di atas cahaya; jika tidak mengetahui, maka hikmah adalah urusan Allah dan Rasul-Nya.


Faedah dalam hadist ini :

  • Disyariatkan mencium hajar aswad tetapi dengan tidak menyulitkan orang lain (tidak berdesak-desakan, mendorong orang lain, dll).
  • Bahwasanya semangat para sahabat mengikuti perintah Rasulullah.
  • Kemurnian tauhid para sahabat, tidak meyakini bahwa hajar aswad memberikan manfaat dan mudharat.
  • Selain Allah tidak ada yang dpt memberikan manfaat dan mudarat.
  • Dalil lebih didahulukan dari pada akal.
  • Sifat ibadah itu taufiqiah, dijalankan setelah ada perintah/dalilnya dan syariat Islam sudah sempurna tidak perlu ditambah.
  • Wajib mengikuti Rasulullah walaupun kita belum tau hikmah dari perbuatan tersebut, karena sebaik-baiknya contoh, petunjuk, perbuatan adalah Rasulullah.


Dalam hadist ini juga disebutkan : Aisyah Radhiyallahu Anha ditanya, "Mengapa orang haid disuruh mengqadha' puasa dan tidak disuruh mengqadha' shalat?" Beliau berkata, "ltulah nasib kita, maka kita disuruh untuk mengqadha' puasa dan tidak disuruh untuk mengqadha' shalat." Seakan-akan Aisyah berkata, "sesungguhnya tugas seorang Mukmin adalah menjalankan syariat, baik dia mengetahui hikmahnya atau tidak mengetahui." Itulah yang benar.

Senin, 21 Juli 2025

Keluarga Yang Dirindukan Surga

 بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ


Kajian Masjid Al Abrar Pejompongan 23 Muharram 1447 H/19 Juli 2025, Keluarga Yang Dirindukan Surga:


Ust. Dr. Syafiq Riza Basalamah. M.A


Ada 2 nikmat yang sering dilalaikan manusia :

  1. Waktu luang
  2. Kesehatan


Orang kafir tidak akan masuk surga karena syarat utama masuk surga adalah Tauhid


4 faktor kebahagian (baik muslim atau non muslim) --> faktor eksternal

  1. Istri yang baik
  2. Tetangga yang baik
  3. Rumah yang luas
  4. Kendaraan yang nyaman


Faktor internal adalah kebahagiaan yang dirasakan oleh hati, dan syaratnya adahal Tauhid : hati yang menafikan sesembahan selain Allah ﷻ dan menetapkan hanya yang disembah adalah Allah . Maka jika ingin suatu keluarga dirindukan surga haruslah menjadi keluarga yang bertauhid.


Surga bukan milik umat muslim tetapi surga adalah milik Allah , dan Allah  menetapkan orang-orang yang bisa masuk surga adalah orang yang tidak melakukan perbuatan kesyirikan.


Pada zaman Rasulullah ﷺ ada seseorang dermawan yang suka membagikan sedekah, A'isah menanyakan kepada Rasulullah ﷺ apakah orang tersebut bisa masuk surga, Rasulullah mengatakan dia tdk akan masuk surga karena dia tidak pernah meminta ampun kepada Allah  (tidak mentauhidkan Allah ) HR. Muslim.


  • Orang-orang yang masuk surga adalah orang yang tidak melakukan kesyirikan : kondisi orang yg masuk surga dan melewati jembatan siratal mustaqim dengan kondisi : 1. selamat hingga ke surga dengan cepat, 2. selamat tetapi lama, 3. selamat dengan kondisi "luka2"
  • Orang-orang yang visi misinya surga maka doanya akan selalu minta surga kepada Allah , selalu lah minta surga dalam setiap doa dan harus yakin dalam setiap doanya maka surga pun akan minta ke Allah ﷻ memasukkan orang tersebut ke surga.
  • Dan mintalah juga kepada Allah ﷻ untuk selalu minta keselamatan dari siska neraka, maka neraka juga akan meminta kepada Allah ﷻ untuk menyelamatkan orang tersebut.
  • Untuk menjadikan keluarga yang dirindukan harus menyatukan visi dan misi untuk mencapai surga.
  • Aktifitas dunia bagaikan permainan, yang pada akhirnya akan ditinggal, maka di dalam kehidupan dunia harus memiliki tujuannya adalah surga.
  • Haruslah memilih pasangan yang baik yang memiliki visi ke surga juga, dan saling bekerja sama untuk saling mengingatkan kebaikan (jika terlihat salah satunya imannya menurun maka wajib untuk diingatkan), saling mendidik anak-anak untuk menuju surga.
  • Dalam Qs Al Azhab 28-29 : di kondisi keluarga Rasulullah ada kecondongan ke dunia maka Rasulullah mengatakan kepada istri-istri Beliau jika ambisi kalian adalah dunia maka akan aku berikan harta dan akan diceraikan dengan cara yang baik.
  • Ambisi dunia akan menyebabkan kelelahan, dan jika ambisinya adalah akhirat maka Allah  akan menyiapkan pahala yang besar dan kemudahan.
  • Rasulullah menceritakan tentang wanita penghuni surga tentang ciri-ciri wanita penghuni surga : 1. wanita yg penuh cinta dan kasih, 2. suka punya banyak anak, 3. yang penyayang, 4. yang pengasih, 5. yang suka kembali ke suaminya (selalu curhat ke suaminya),
  • Harus menciptakan kondisi rumah yang nyaman, saling mengingatkan dan saling bersabar selalu lihat kebaikan dari setiap pasangan tidak fokus dikekurangannya karena tidak ada yang sempurna. Dan selalu bertasbih kepada Allah .
  • Dalam mendidik anak, jika kita melarang sesuatu yang dianggap buruk maka harus kita ganti dengan hal atau perbuatan baik yang harus dikerjakan bersama.
  • Orang yang baik adalah orang yang baik ketika dia sendiri dan hanya kepada Rabbnya serta baik juga ke lingkungan sekitar (dilihat dari pergaulannya).
  • Jika tertimpa suatu masalah pertolongan pertamanya adalah : 1. bertasbih : istigfar, tasbih, tahmid, tahlil (agar hati tenang) & sholat, 2. memaafkan.
  • Dosa tidak mengikuti perintah lebih besar dari pada dosa melanggar larangan Allah . Dosa meninggal kan sholat lebih besar dari dosa berzina.


والله أعلمُ

Diskusi Raja Romawi dengan Abu Sufyan

 بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ


Kajian Masjid An Nur Casagoya 16 Juli 2025, BAB Awal Mula Turunnya Wahyu:


Ust. Farhan Abu Furaihan


Terdapat diskusi & pertanyaan dari Heraklius (karea ia mendapatlan surat dakwah dari Rasulullah ) kepada Abu Sufyan tentang Rasulullah ﷺ salah satunya Heraklius menanyakan bagaimana sifat Rasulullah , Abu Sufyan menjawab bahwa Rasulullah  selalu mengajak ke dalam kebaikan, taat kepada Allah, dan jujur, setelah mendapat jawaban dari Abu Sufyan, heraklius memilih masuk Islam tetapi para bawahannya langsung pergi meninggalkannya, karena ketakutan Heraklius membatalkan keIslamannya.

Faidah dalam diskusi tersebut :

  1. Untuk melihat seseorang jujur atau tidak yaitu dengan melihat perilakunya sehari-hari jika orang tersebut selalu mengutamakan kebaikan dan ketaatan kepada Allah maka orang tersebut telah jujur, sebagai contoh : jika terdapat perayaan ibadah yg bid'ah dan ada seseorang yg meluruskan perilaku bid'ah maka orang tersebut sudah jujur.
  2. Sejarah perayaan maulid nabi dimulai ketika kaum fatimiah melihat kaum nasrani merayakan perayaan kelahiran nabi Isa, padahal tidak ada di ajaran nabi Isa, dan hal ini diikuti oleh kaum fatimiah.
  3. Rasulullah ﷺ bersabda : laknat Allah kepada yahudi dan nasrani yg selalu menjadikan kuburan nabi menjadi tempat ibadah (hal ini ciri-ciri orang yahudi dan nasrani) saat ini orang-orang yg mengingkari hal tersebut malah di cap sebagai yahudi dan wahabi.
  4. Dalam surat nabi, urutannya ditulis nama Rasulullah ﷺ terlebih daulu baru nama orang yang dituju dan hal ini merupakan sunah Rasulullah ﷺ.
  5. Orang kafir yg dimurkai Allah tidak boleh diberikan sebutan-sebutan yang mulia atau pengagungan-pengagungan, hanya sebutan yang dimuliakan oleh kaumnya, contoh dalam surat Rasulullah ﷺ ke raja romawi, Rasulullah ﷺ menyebutkan kepada Raja romawi yang dimuliakan oleh kaum romawi (bukan kaum muslim).
  6. Dalam berdoa jangan menambahkan Inshaa Allah, karena dalam berdoa kita harus yakin bahwa Allah pasti mengabulkan doa-doa.
  7. Jika mendapatkan suatu kesuksesan, kebaikan, kekuasaan, kekayaan maka jika ada yg bertanya bagaimana cara mendapat kesuksesan maka jawablah yang pertama Lahaula walakuata illabillah.
  8. Bahayanya teman-teman duduk yang tidak baik (dalam kasus heraklius : dia membatalkan ke Islamannya karena para bawahannya semua meninggalkannya).


والله أعلمُ

Kondisi-kondisi saat Rasulullah ﷺ memberikan nasihat atau pidato

 بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ


Kajian rutin Musholla Baiturrahman 16 Juli 2025, Syarah Riyadhus Shalihin BAB Perintah Menjaga Sunah dan Adab Nabi:

Ust. Syarif Hidayatullah S.Ag

Hadist ke 156:

Dari lbnu Abbas Radhilallahu Anhuma, ia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdiri di tengah-tengah kami untuk memberi nasihat, 'Hai sekalian manusia, sesungguhnya kalian akan dikumpulkan di hadapan Allah dalam keadaan telanjang bulat, tidak beralas kaki, dan tidak dikhitan (sebagaimana pertama kali kita diciptakan. Itu adalah janji Allah untuk kita dan sesungguhnyajanji itupasti akan dilaksanakan) (Al-Anbiya': 104). Ketahuilah! Sesunguhnya pertama kali makhluk yang diberi pakaian kelak di hari Kiamat adalah Nabi lbrahim Alaihissalam Ketahuilah! sesungguhnya nanti akan ada dari umatku yang didatangkan dari sebelah kiri dan mereka akan disiksa, kemudian aku berkata, 'Wahai Rabbku, mereka itu adalah umatku' Allah berfirman, sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang diperbuat mereka sepeninggalmu, Maka saya berkata sebagaimana perkataan hamba yang salih (Nabi Isa Alaihi Salam), dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku. Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menuiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana'. (Al-Maaidah: 117-118) Kemudian aku diberitahu, sesungguhnya mereka itu murtad dari agama Islam semenjak engkau tinggalkan mereka'." (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim).


Rasulullah  memberikan nasihat atau pidato dengan dua kondisi :

  1. Yang sifatnya rutin (kutbah Jumat, kutbah idul fitri, kutbah idul adha)
  2. Yang sifatnya insidental (ketika ada kejadian tertentu) atau jika beliau mendapatkan sebab-sebab yang mengharuskannya untuk berkhutbah.

Dari hadits ini kita ketahui bahwa kejelekan suap itu sangat besar.

Suap termasuk dosa besar yang menyebabkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkhutbah secara insidental di hadapan manusia dan mengingatkan mereka dari perbuatan ini. Jika suap itu menyebar dalam suatu kaum, maka mereka akan binasa sehingga setiap orang tidak mengatakan kebenaran, tidak menghakimi dengan benar, dan tidak menegakkan keadilan, kecuali jika dia disuap. Na'udzu billah.

Orang yang mengambil suap dilaknat dan begitu juga yang memberi; karena orang yang memberi ingin agar haknya berjalan mulus dan tidak ada jalan untuk mendapatkannya, kecuali dengan cara membayar suap.

Seperti yang ada sekarang di beberapa negara Islam, utamanya Indonesia, orang tidak bisa mendapatkan haknya dengan cara yang jujur dan adil, kecuali dengan cara suap sehingga dia memakan harta dengan cara yang batil dan menyerahkan dirinya untuk dilaknat. Na'udzu billah.

Yang harus dilakukan orang yang diberi amanat oleh Allah untuk mengerjakan suatu tugas adalah hendaklah dia mengerjakannya dengan adil dan mengerjakan kewajiban itu dengan baik semampunya.


Beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari hadits ini adalah:

  1. Seyogyanya para hakim, mufti, ulama, dan dai, jika mereka mendapatkan perkara yang urgen, hendaklah mereka mengadakan khutbah secara insidental untuk menjelaskan tentang kebenaran. Begitu juga dalam khutbah rutin, seperti, khutbah Jum'at, dua hari raya, shalatistisqa', dan shalat gerhana seperti yang telah dijelaskan. Itulah di antara metode yang ditempuh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam karena sesuatu jika datang tepat pada waktu dibutuhkan, akan lebih cepat diterima.
  2. Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa manusia akan diberi pakaian setelah sebelumnya mereka dikeluarkan dalam keadaan telanjang, tanpa alas kaki, dan tanpa dikhitan. Bagaimana cara memberinya pakaian? Kita tidak tahu karena tidak ada penjahit, tidak ada pemotong pakaian, tetapi Allah lebih mengetahui tentang bagaimana cara memberi pakaian tersebut.
  3. Dalam hadits ini terdapat isyarat tentang masalah khitan. Dalam sabda beliau, "gharlaan", kata "al-aghral" berarti kulit yang tersisa pada ujung zakar, artinya, belum dikhitan. Para ulama berselisih pendapat tentang kewajiban berkhitan ini. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa berkhitan hukumnya wajib bagi laki-laki dan perempuan.
  4. Janji Allah akan ditunaikan semua di akhir zaman.


Hadist 157:

Dari Abu Sa'id Abdullah bin Mughaffal Radhiyallahu Anhu, ia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang bermain ketapel dan bersabda, 'Ketapel itu tidak dapat membunuh binatang buruan dan tidak dapat untuk melukai musuh, hanya saja ia akan mencukil mata dan mematahkan gigi'." (Diriwaytkan Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain disebutkan "Kerabat lbnu Mughaffal ada yang bermain ketapel. Kemudian, ia dilarangnya dan dikatakan sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang bermain ketapel dan ia mengatakan pula bahwa ketapel itu tidak dapat digunakan untuk berburu. Setelah itu, mereka tetap terus bermain ketapel. Akhirnya ia berkata, 'Kamu telah saya beritahu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang bermain ketapel. Oleh karena itu, saya tidak akan berbicara lagi denganmu selamanya (dalam rangka memberi pelajaran, jika sudah beratubat maka boleh untuk diajak bicara kembali).

Penulis An-Nawawi meriwayatkan dari Abdullah bin Mughaffal Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi shollollahu Alaihi wa sallam melarang bermain ketapel dan bersabda, "Ketapel itu tidak dapat membunuh binatang buruan, dan tidak dapat untuk melukai musuh, hanya saja ia akan mencukil mata dan mematahkan gigi."

Ketapel yang dimaksud dalam hadist ini adalah meletakkan kerikil di antara ibu jari dan jari telunjuk, lalu dipentalkan dengan jari telunjuk, atau meletakkan kerikil di atas jari telunjuk, lalu dipentalkan dengan ibu jari. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang tindakan ini dengan alasan bahwa tindakan ini dapat mencukil mata dan merusak gigi, tetapi tidak membunuh binatang buruan dan tidak dapat menahan musuh. Tidak dapat membunuh binatang buruan karena tidak bisa menembusnya dan tidak menahan musuh karena musuh dapat dipanah dengan anak panah, bukan dengan batu kerikil.

Ahlul Sunnah wal Jama'ah mengajak manusia kepada akhlak yang mulia dan amal-amal yang baik serta melarang dari Akhlak yang buruk

 بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ


Kajian Sunnah rutin Musholla Baiturrahman 13 Juli 2025 :

Ust. Hidayat Husein


Ahlul Sunnah wal Jama'ah mengajak manusia kepada akhlak yang mulia dan amal-amal yang baik serta melarang dari Akhlak yang buruk

Rasulullah ﷺ diutus untuk mengajak manusia agar beribadah hanya kepada Allah saja dan memperbaiki akhlak nanusia, sesuai sabda Rasulullah ﷺ : sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik, HR. Al Bukhari (al Adabul Mufrad 273)

Antara Akhlak dengan Aqidah terdapat hubungan yang baik sebagai bukti dari keimanan dan akhlak yang buruk sebagai bukti atas lemahnya iman, semakin sempurna akhlak seorang muslim berarti semakin kuat imannya.

Rasulullah  bersabda : Kaum mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang akhlaknya paling baik di antara mereka, dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada istri-istrinya, HR At Tirmidzi (1162).

Akhlak yang baik adalah bagiaj dari amal shalih yang dapat menambah keimanan dan memiliki bobot yang berat dalam timbangan.

Rasulullah ﷺ bersabda : Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin di hari kiamat melainkan akhlak yang baik, dan sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang suka berbicara keji dan kotor, HR. Abu Dawud (4799).

Rasulullah  bersabda : sesungguhnya yang paling aku cintai diantara kalian dan yang paling dekat majelisnya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya, HR At Tirmidzi (2018).


Akhlak :

  1. Secara bahasa : menciptakan
  2. Secara istilah : sikap atau tindakan dan kelakuan, budi pekerti, tingkah laku.
  3. Secara istilah syariah : keadaan yang kokoh di dalam jiwa yang menjadi sumber lahirnya perbuatan-perbuatan yang diinginkan dari perbuatan baik atau buruk, muncul dari proses pembelajaran, kebiasaan di lingkungan sekitar orang tersebut.


Hal-hal yang kebanyakan menyebabkan manusia masuk neraka:

  1. Mulut
  2. Kemaluan


Ahlul sunnah juga mendorong manusia untuk berbuat baik & bersilahturrahim kepada :

  1. Kedua orang tuanya
  2. Tetangga
  3. Anak yatim
  4. Fakir miskin
  5. Ibnu sabil

Dan melarang untuk berbuat : sombong, angkuh, zhalim.


Rasulullah  bersabda : sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang baik, akan mencapai derajat orang yang shaum (puasa) di siang hari dan shalat di tengah malam, HR Abu Dawud (4798).


Akhlak para Salafush Shalih :

  1. Ikhlas dalam ilmu dan amal serta takut dari riya.
  2. Jujur dalam segala hal dan menjauhkan diri dari sifat dusta.
  3. Bersungguh-sungguh dalam menunaikan amanah dan tidak khianat.
  4. Menjunjung tinggi hak-hak Allah dan Rasul-Nya.
  5. Berusaha meninggalkan segala bentuk kemunafikan.
  6. Lembut hatinya, banyak mengingat mati dan akhirat serta takut terhadap akhir kehidupan yang jelek.
  7. Banyak berdzikir kepada Allah, dan tidak berbicara yang sia-sia.
  8. Tawadhu (rendah hati) dan tidak sombong.
  9. Banyak bertaubat, beristigfar kepada Allah, baik siang maupun malam.
  10. Sungguh-sungguh dalam bertaqwa dan tidak mengaku-ngaku sebagai orang yang bertakwa serta senantiasa takut kepada Allah.
  11. Sibuk dengan aib diri sendiri dan tidak sibuk dengan aib orang lain.
  12. Senantiasa menjaga lisan mereka, tidak suka ghibah.
  13. Pemalu, malu adalah akhlak Islam sesuai sabda Rasulullah : sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam adalah malu, HR Ibnu Maja (4181).
  14. Banyak memaafkam dan sabar kepada orang yang menyakitinya.
  15. Banyak bershodaqoh, dermawan, menolong orang-orang yang susah, tidak bakhil/tidak pelit.
  16. Mendamaikan orang yang mempunyai sengketa.
  17. Tidak hasad, tidak berburuk sangka sesama Mukmin.
  18. Berani dalam mengatakan kebenaran dan menyukainya.


Wallahu a'lam


Buku : Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah -> Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Sabtu, 12 Juli 2025

Cinta Rasulullah ﷺ Kepada Umatnya

 بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ


Kajian rutin Musholla Baiturrahman 9 Juli 2025, Syarah Riyadhus Shalihin BAB Perintah Menjaga Sunah dan Adab Nabi:

Ust. Syarif Hidayatullah, S.Ag.


Hadist ke 154:

Diriwayatkan dari Jabir Radhiallahu Anhu ia berkata "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda 'Perumpamaan diriku dan kalian adalah bagaikan seorang laki-laki yang menyalakan api lalu mulailah laron-laron dan kupu-kupu mengerumuni api. Sementara itu, laki-laki tersebut mencegat laron dan serangga-serangga itu jangan sampai tercebur ke dalam api. Saya akan selalu menarik kalian dari belakang, jangan sampai kalian tercebur ke dalam api neraka tetapi (di antara) kalian memberontak lepas dari tanganku'." (Diriwayatkan Muslim).

Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa Nabi shallallahu Alaihi wa sallam sangat gigih dalam menjaga umatnya dari api neraka. Beliau menarik dari belakang agar tidak jatuh ke dalam api tersebut. Tetapi ada di antara kita yang berontak dan berusaha lepas darinya. Kita memohon kepada Allah semoga kita diberikan ampunan.

Manusia harus mengikuti sunah Nabi shallallahu Alaihi wa sailam dan menaatinya karena Rasulullah shallallahu Alaihi wa Sallam menunjukkan kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan, seperti orang yang memegang bagian belakang baju kawannya, memegangnya sehingga tidak jatuh ke dalam api; karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam seperti yang digambarkan Allah dalam kitab, sangat gigih menjaga umatnya, "Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin." (At-Taubah: 128).

Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa manusia harus mengikuti sunah Rasulullah shallallahu Alaihi wa sallam dalam segala hal yang beliau perintahkan, larang, kerjakan, dan beliau tinggalkan. Dia harus yakin bahwa Nabi adalah imam yang pantas diikuti. Tetapi kita ketahui bahwa di antara syariat ada yang wajib sehingga berdosa bila ditinggalkan, ada yang haram sehingga berdosa bila dikerjakan, ada yang sunah jika dikerjakan adalah baik dan berpahala serta tidak berdosa jika ditinggalkan. Dalam syariat juga ada makruh, jika ditingalkan manusia lebih baik dan jika dikerjakan tidak berdosa. Tetapi yang terpenting, kita harus berpegang teguh kepada sunah secara umum dan Anda harus yakin bahwa pemimpinmu dan panutanmu adalah Muhammad. Tidak ada jalan menuju keselamatan, kecuali mengikutinya, berjalan menempuh jalannya, dan berpegang teguh kepada petunjuknya.

Di antara faidah hadits ini adalah menjelaskan tentang besarnya hak Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam atas umatnya, sementara beliau sendiri tidak pernah putus asa dalam usahanya untuk mencegah dan menahan umatnya agar tidak terjerumus ke dalam segala sesuatu yang membahayakan agama dan dunia mereka.

Berdasarkan hal tersebut, jika kamu melihat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang sesuatu, ketahuilah bahwa mengerjakannya berarti jelek dan jangan mengatakan, 'Apakah larangan itu bersifat makruh atau haram", tetapi tinggalkan apa yang dilarang, baik itu makruh atau haram.

Jangan coba-coba membuat masalah untuk dirimu sendiri karena asal dalam larangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah haram, kecuali jika ada dalil yang menunjukkan atas kemakruhannya.

Begitu juga jika Nabi Shallallahu Alaihi wo Sallam memerintahkan sesuatu, jangan kamu katakan, "Perintah itu bersifat wajib ataukah sunah", tetapi lakukan apa yang diperintahkan, maka hal itu akan membawa kebaikan untukmu. Jika perintah itu wajib, berarti kamu telah lepas tanggung jawab dan mendapatkan pahala; jika sunah, maka kamu telah mendapatkan pahala dan kamu telah mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam secara sempurna. Kita memohon kepada Allah semoga memberikan kepada kita rezeki untuk mengikutinya, baik secara lahir maupun batin.


Hadist 155:

Berkah : didalamnya terda[at kebaikan, dan terus bertambah kebaikan itu

Diriwayatkan dari Jabir Radhiallahu Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan utuk menjilat tangan dan piring ketika makan. Beliau bersabda, "Sesungguhnya kalian tidak tahu di mana letak keberkahan makanan itu" (Diriwayatkan Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Jika makanan salah seorang di antara kamu jatuh hendaklah ia mengambilnya dan membersihkan kotoran yang melekat, kemudian makanlah Jangan biarkan makanan itu untuk setan dan janganlah kamu membersihkan tangan dengan sapu tangan sebelum menjilat jari-jari tangan dengan mulut karena sesungguhnya ia tidak tahu di mana letak keberkahan makanan itu'."

Dalam riwayat lain disebutkan, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Setan itu selalu hadir menyertai salah seorang di antara kalian dalam segala hal, juga ketika ia makan. Oleh sebab itu jika makanan salah seorang di antara kalian itu terjatuh maka hendaklah ia membersihkan kotoran yang melekat, kemudian makanlah dan janganlah ia membagikan makanan itu untuk setan'."

Semua yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulnya pasti ada kebaikan & hikmah di dalamnya

Ada dua etika dalam makan :

  1. Menjilat piring. 
  2. Menjilat jari jemari. 

Nabi Shollallahu Alaihi wa Sallam tidak menyuruh umatnya untuk melakukan sesuatu, kecuali di dalamnya ada kebaikan dan barakah.

Maka dari itu, para dokter berkata, "Sesungguhnya menjilat jari setelah makan membawa banyak faidah, di antaranya mempermudah pencernaan karena ujung jari manusia mengeluarkan zat yang dapat memudahkan pencernaan." Kami katakan, "lni termasuk bab mengetahui hikmah syariat yang diperintahkan." Karena asal dari tindakan ini adalah menjalankan perintah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan banyak di antara manusia yang tidak memahami sunah ini. Karena itu Anda dapati ketika selesai makan, di sekitar jarinya masih banyak makanan dan langsung mencucinya tanpa menjilatnya terlebih dahulu. Nabi Shallallhu Alaihi wa Sallam melarang manusia untuk membersihkan kedua tangan-nya dengan sapu tangan hingga dia menjilat dan membersihkan seluruh makanan dengan mulutnya, kemudian baru membersihkannya dengan sapu tangan, dan mencucinya jika mau.

Begitu juga termasuk etika makan, jika makanan iatuh ke atas lantai, seseorang tidak boleh membiarkannya karena setan akan datang kepada orang itu dalam segala keadaannya. Yaitu, segala keadaannya tatkala makan, minum, jimak, dan segala aktivitasnya akan didatangi setan. Jika kamu tidak membaca nama Allah ketika makan, niscaya setan akan menyertaimu dalam makan sehingga dia makan bersamamu karena itu hilanglah barakah makan jika kamu tidak membaca bismillah. Jika kamu membaca basmalah sebelum makan, kemudian makanan jatuh ke lantai, maka setan akan mengambilnya. Akan tetapi, ketika setan mengambil makanan itu, kita tidak dapat melihatnya karena setan itu bersifat gaib dan tidak bisa kita lihat langsung. Akan tetapi, kita mengetahui hal ini dari berita yang disampaikan Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa setan mengambil dan memakannya. Walaupun secara fisik makanan itu masih tetap ada di depan kita, tetapi secara gaib makanan itu telah dimakannya. Ini adalah perkara gaib yang harus dipercayai.

Tetapi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menunjukkan kebaikan kepada kita seraya berkata, "Oleh sebab itu, jika makanan salah seorang di antara kalian itu terjatuh, maka hendaklah ia membersihkan kotoran yang melekat kemudian makanlah dan janganlah ia meninggalkan makanan itu untuk setan." Atau ambillah dan bersihkan kotoran yang ada pada makanan itu seperti debu dan sebagainya kemudian makanlah dan janganlah kamu biarkan untuk setan. Jika manusia menjalankan perintah Nabi ini dan bertawadhu kepada Allah serta tidak membiarkan setan memakannya, niscaya dia akan mendapatkan ketiga faidah ini, yaitu : 

  1. Menjalankan perintah Nabi
  2. Tawadhu
  3. Menghalangi setan untuk memakannya. 

Itulah tiga faidah yang dapat diperoleh dari ajaran Nabi ini, namun demikian kebanyakan manusia jika jatuh makanan di atas lantai atau tikar yang bersih, dia membiarkannya. Ini bertentangan dengan sunah.

Dalam hadits ini terdapat banyak faidah, di antaranya : 

  • Manusia tidak boleh memakan makanan yang di dalamnya ada bahaya karena badanmu adalah amanah bagimu. 
  • Oleh karena itu, jangan memakan makanan yang di dalamnya ada bahaya, seperti, bakteri, duri, debu, dan sebagainya. 
  • Kita ingatkan kepada orang yang makan ikan, hendaklah mereka berhati-hati karena ikan banyak mengandung duri-duri kecil seperti jarum. Jika seseorang tidak berhati-hati darinya, mungkin duri itu akan masuk ke dalam perutnya dan melukai lambungnya sehingga menyebabkan penyakit yang serius tanpa dirasakannya.


Hadist ke 156:

Dari lbnu Abbas Radhilallahu Anhuma, ia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdiri di tengah-tengah kami untuk memberi nasihat, 'Hai sekalian manusia, sesungguhnya kalian akan dikumpulkan di hadapan Allah dalam keadaan telanjang bulat, tidak beralas kaki, dan tidak dikhitan (sebagaimana pertama kali kita diciptakan. Itu adalah janji Allah untuk kita dan sesungguhnyajanji itupasti akan dilaksanakan) (Al-Anbiya': 104). Ketahuilah! Sesunguhnya pertama kali makhluk yang diberi pakaian kelak di hari Kiamat adalah Nabi lbrahim Alaihissalam Ketahuilah! sesungguhnya nanti akan ada dari umatku yang didatangkan dari sebelah kiri dan mereka akan disiksa, kemudian aku berkata, 'Wahai Rabbku, mereka itu adalah umatku' Allah berfirman, sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang diperbuat mereka sepeninggalmu, Maka saya berkata sebagaimana perkataan hamba yang salih, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku. Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menuiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana'. (Al-Maaidah: 117-118) Kemudian aku diberitahu, sesungguhnya mereka itu murtad dari agama Islam semenjak engkau tinggalkan mereka'." (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim).

Rasulullah memeberikan nasihat atau pidato dengan dua kondisi :

  1. Yang sifatnya rutin (kutbah Jumat, kutbah idul fitri, kutbah idul adha)
  2. Yang sifatnya insidental (ketika ada kejadian tertentu) atau jika beliau mendapatkan sebab-sebab yang mengharuskannya untuk berkhutbah.

Jumat, 04 Juli 2025

Sabar, Syukur, & Yakin

 بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ


Kajian Sunnah rutin Musholla Baiturrahman 5 Juli 2025 :


Keutamaan dalam Menuntut Ilmu  Agama (Syariat)

Ust. Hidayat Husein


Ahlus Sunnah : kaum muslimin harus sabar ketika mendapat ujian, bersyukur ketika mendapat kesenangan serta ridha terhadap pahitnya qadha dan qadar.


QS. Ali Imran : 200 = Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.

Musibah yang diterima seseorang adalah sebab dari perbuatan dosa-dosa mu yang Allah ingin hapuskan dari diri seseorang. Dan ini bukti cinta Allah terhadapt hambanya (dengan ujian) jika Allah tidak mencintai suatu kaum maka Allah akan membinasahkan mereka (contoh : kaum nabi Nuh, kaum nabi Luth).


Hadist Rasulullah : sesungguhnya menakjubkan urusan seoramg mukmin, sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikiam itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecualai oleh orang mukmin, yaitu jika ia mendaptkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikam baginya. Serta jika ia mendapat musibah, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya (HR. Muslim 2999).

Orang-orang yang bersabar lagi bersyukur kepada Allah, maka Allah akan memberinya petunjuk di dunia dan akhirat.

Rasulullah mengatakan bahwa siapa saja yang dikehendaki suatu kebaikan oleh Allah, maka Allah akan menguji orang tersebut (dengan ada ujian maka dihapuskanlah dosa-dosanya) dan dengan syarat orang tersebut benar dalam menyikapi ujian ini datang dari Allah dan hal tersebut akan menjadi penghapus dosa-dosa.


Para ulama berpendapat bahwasanya iman itu ada dua bagian :

  1. Sabar : secara bahasa adalah menahan/mencegah. Secara istilah : menahan diri atau jiwa dari segala sesuatu perbuatan atau perkataan yang dapat membinasahkan dan juga meneguhkan diri dalam ketaatan terhadap perintah Allah, menahan diri dari perbuatan dosa serta menerima takdir dari Allah.
  2. Syukur

Dan iman dibangun atas dua rukun, yaitu :

  1. Yakin
  2. Sabar

QS. As Sajadah : 24 = Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.

  • Dengan keyakinan : seseorang akan tahu hakikat perintah dan larangan, ganjaran dan siksaan.
  • Dengan kesabaran : seseorang bisa melaksanakan perintah Allah dan menahan dirinya dari apa yang dilarang oleh Allah. Balasan orang yang bersabar akan mendapatkan pahala yang besar dan mudah tanpa hisab. 

Pelaksanaan kesabaran ini adalah dengan berdoa : Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha

Sabar dibagi menjadi tiga macam :

  1. Sabar dalam melaksanakan perintah dan ketaatan.
  2. Sabar dalam menahan diri dari perbutan dosa dan maksiat.
  3. Sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian yang pahit.

Meminta kesabaran tidak dianjurkan dalam doa kecuali pada saat musibah itu datang, karena jika meminta kesabaran maka akan datang ujian kepadanya maka mintalah keselamatan dari Allah.

Syukur adalah pangkal iman, dan dibangun atas tiga rukun :

  1. Pengakuan hati bahwa semua nikmat Allah yang dikaruniakan kepadanya dan kepada orang lain, karena pada hakekatnya semua adalah dari Allah.
  2. Menampaklan nikmat tersebut dan menyanjung Allah atas nikmat-nikmat itu.
  3. Menggunakan nikmat itu untuk taat kepada Allah dan beribadah dengan benar hanya kepada Allah.

Sabar dan syukur merupakan faktor penyebab bagi pelakunya untuk dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah. Hal ini karena iman dibangun di atas sabar dan syukur. Sesungguhnya pangkal syukur adalah tauhid dan pangkal sabar adalah meninggalkan hawa nafsu.

Wallahu a"lam


Buku : Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah -> Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Rabu, 02 Juli 2025

Level Keilmuan Seseorang

  بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ


Kajian rutin Musholla Baiturrahman 2 Juli 2025, Syarah Riyadhus Shalihin BAB Perintah Menjaga Sunah dan Adab Nabi:

Ust. Syarif Hidayatullah, S.Ag


Hadist ke 153:

Diriwaytkan dari Abu Musa Radhilallahu Anhu, dia berkata, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang ditugaskan Allah kepadaku untuk menyiarkannya adalah bagaikan hujan yang jatuh ke bumi. Sebagian bumi ada yang baik sehingga dapat menerima air dan menyimpannya, kemudian menumbuhkan rerumputan dan tetumbuhan yang lain. Sebagian ada yang kering tapi dapat menyimpan air, lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia dengan bumi kering yang mengandung air itu sehingga manusia minum, menyiram, dan bercocok tanam darinya. Sebagian lagi adalah tanah berbatu yang tidak bisa menyimpan air dan tidak dapat pula menumbuhkan rerumputan. Demikianlah perumpamaan orang yang pandai dengan agama Allah dan ilmu atau petunjuk-petunjuk dari Allah yang bisa memberi manfaat pada dirinya, dia belajar hingga pandai lalu mengajarkan ilmunya (kepada orang lain). Demikian pula perumpamaan orang yang tidak peduli dan yang tidak mau menerima petunjuk ajaran Allah yang diutuskan untuk ku'. "(Diriwayatkan Bukhari dan Muslim).


Bumi ini terbagi menjadi tiga bagian. Pertama : ada bagian yang subur, bisa menerima air, bisa menumbuhkan rerumputan yang banyak dan tanaman sehingga manusia banyak mengambil manfaat darinya. Keduaada tanah yang dapat menyimpan air sehingga manusia bisa memanfaatkan darinya, minum darinya, dan kenyang dengannya. Ketiga : ada tanah yang tandus, jika mendapat siraman air langsung ditelan dan tidak bisa menumbuhkan tanaman.

Dalam hadist ini terdapat kaidah :

  1. Keadaan manusia bila dikaitkan dengan ilmu dan petunjuk yang diberikan Allah kepada Nabi. Di antara mereka ada yang memahami agama Allah, Ialu dia mengetahui dan mengajarkannya sehingga manusia mengambil manfaat dari ilmunya dan dia juga mengambil manfaat dari ilmunya. orang seperti ini seperti bumi yang dapat menumbuhkan rerumputan dan tanaman sehingga manusia dapat makan darinya dan juga binatang-binatang ternak.
  2. Orang yang membawa petunjuk, tetapi dia tidak memahami petunjuk tersebut. Artinya, mereka adalah para perawi ilmu dan hadits, tetapi mereka tidak memiliki pemahaman. Mereka diumpamakan seperti bumi yang dapat menyimpan air dan orang-orang bisa mengambil air minum darinya serta meminumnya. Tetapi bumi itu sendiri tidak menumbuhkan apa-apa; karena mereka meriwayatkan hadits dan menukilnya, tetapi mereka tidak memiliki pemahaman.
  3. Orang yang tidak mau peduli sama sekali terhadap ilmu dan petunjuk yang dibawa Nabi shallallahu Alaihi wa sallam dan berpaling darinya serta tidak mempedulikannya. orang seperti ini berarti tidak memanfaatkan apa yang dibawa Nabi shalloilahu Alaihi wa sallam dan tidak memberi manfaat kepada selainnya. Perumpamaan orang seperti ini, bagaikan bumi yang menelan air dan tidak menumbuhkan sesuatu.
Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa :
  1. Orang yang memahami agama Allah dan memahami sunah Rasulullah shaltallahu Alaihi wa sallam adalah kelompok yang terbaik; karena dia tahu dan paham agar ilmunya itu bermanfaat baginya dan bagi manusia. 
  2. Orang yang tahu tetapi dia tidak paham, yaitu meriwayatkan hadits dan membawanya, tetapi dia tidak memahaminya sama sekali dan bisanya hanya meriwayatkan saja. orang seperti ini ada pada tingkat kedua bila dikaitkan dengan orang yang berilmu dan beriman. 
  3. Kelompok yang tidak ada baiknya sama sekali, yaitu orang yang datang kepadanya ilmu dan petunjuk yang dibawa Nabi Shollollahu Alaihi wa Sallam, tetapi dia tidak peduli sama sekali, tidak mengambil manfaat darinya, dan tidak mengajarkannya kepada manusia. OIeh karena itu, dia diibaratkan seperti bumi tandus yang menelan air, tetapi tidak menumbuhkan tanaman sama sekali unfuk manusia dan air itu pun tidak tersisa di permukaan sehingga tidak bisa dimanfaatkan manusia.
Dalam hadits ini juga terdapat dalil atas bagusnya ajaran Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yaitu dengan memberikan perumpamaan, karena memberikan perumpamaan secara inderawi (fisik) dapat mendekatkan kepada makna logika. Atau, sesuatu yang diketahui akal dapat dimudahkan dengan sesuatu yang bersifat fisik. Banyak contoh yang menunjukkan fenomena ini. Banyak orang tidak paham, tetapi jika diberi contoh fisik baru paham.

Oleh karena itu, Allah Subhanahu waTa'ala berfirman :
"Dan perumpamaan-perumpanaan ini kami buatkan untuk manusia dan tiada yang rnemahaminya kecuali orang-orang yng berilmu. " (Al-Ankabut : 43).


Allah berfirman,
"Dan
sesungguhnya telah Kami buat dalam Al-Qur'an ini segala macam perumpamaan untuk mansuia..." (Ar-Ruum : 58)
Membuat permisalan merupakan cara dan sarana pengajaran yang paling baik.

Dosa-dosa Besar ke 30 : MEMAKAN BANGKAI, DARAH, DAN DAGING BABI

  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ Kajian Sunnah Rutin Musholla Baiturrahman Ust. H. Hidayat Husein Allah Ta'ala berfirman, "Ka...