Jumat, 20 Juni 2025

Wasiat Rasulullah ﷺ : Agar Tetap Selalu Bertaqwa kepada Allah, Berpegang Teguh kepada Suanah Rasulullah ﷺ, Mentaati Pemimpin, dan Menjauhi Perbuatan Bid'ah

 بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ


Kajian rutin Musholla Baiturrahman 18 Juni 2025, Syarah Riyadhus Shalihin BAB Perintah Menjaga Sunah dan Adab Nabi:

Ust. Syarif Hidayatullah, S.Ag.


"Dari Abu Najih Al-'irbadh bin Sariyah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, 'Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi nasihat kepada kami. Nasihat itu mengetarkan hati dan mencucurkan air mata kami. Maka kami bertanya, 'Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan merupakan nasihat perpisahan, maka berilah kami wasiat.' Beliau bersabda, 'Aku wasiatkan kepadamu agar tetap selalu bertakwa kepada Allah, serta tetap mendengar perintah dan taat, walaupun yang memerintah kalian itu seorang budak Habasyi. Sesunguhnya orang yang masih hidup di antaramu, akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib atasmu memegang teguh kepada sunahku dan sunah Khulafaur Rasyidin yg diberi petunjuk oleh Allah. Dan gigitlah ia dengan gigi geraham dan jauhilah urusan-urusan yang dibuat-buat (bid'ah). Sesungguhnya setiap bid'ah itu adalah sesat'." (Diriwayatkan Abu Daud dan At-Tirmidzi. Dan At.Tinnidzi berkatq *Hadits ini hasan shahih." )

Ketakwaan merupakan kata yang bersifat universal yang mengumpulkan berbagai macam kata syariat, yang artinya mencari perlindungan dari azab Allah atau untuk menjaga diri dari azab Allah. Hal ini tidak terjadi, kecuali dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Melaksanakan perintah dan menjauhi larangan tidak terjadi, kecuali dengan mengetahui perintah dan larangan. Jadi, harus diketahui dan harus dikerjakan. Jika manusia telah memadukan antara ilmu dan amal, berarti dia takut kepada Allah dan berhasillah dia menjadi orang yang bertakwa.
Dengan demikian, bertakwa kepada Allah adalah mengambil segala sesuatu untuk menjaga diri dari azab Allah, dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Tetapi seseorang tidak bisa sampai kepadanya, kecuali dengan ilmu. Yang dimaksud dengan berilmu di sini bukan berarti bahwa manusia harus pandai sekali, bukan. Tetapi yang dimaksud adalah mengetahui perintah-perintah apa yang ditetapkan Allah.

Patuh dan taat kepada pemimpin hukumnya wajib, walaupun pemimpin itu adalah seorang hamba dari negeri Habasyah, baik pemerintahannya itu bersifat umum, seperti, kepala pemerintahan negara; atau pemerintahan khusus, seperti, kepala daerah, pemimpin kabilah, dan sebagainya.
Ada tiga keadaan yang perlu diperhatikan terkait perintah dari pemimpin:

  1. Perintah yang diperintahkan oleh pemimpin juga diperintahkan syariat, seperti, jika pemimpin menyuruh untuk melaksanakan shalat jamaah, maka melaksanakan perintahnya hukumnya wajib karena Allah dan Rasul juga memerintahkannya.
  2. Pemimpin yang menyuruh agar berbuat maksiat kepada Allah dengan meninggalkan kewajiban atau melaksanakan perbuatan haram. Perintah semacam ini tidak perlu didengar dan ditaati.
  3. Pemimpin yang menyuruh manusia sesuatu yang tidak diperintahkan syariat dan tidak bertentangan dengan syariat. Perintah semacam ini harus ditaati karena Allah Subhanahu waTa'ala berfirman, "Hai orang-orang lang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu…." (An-Nisa': 59) Dengan demikian, menaati perintah pemimpin dalam hal yang tidak ada kemaksiatan di dalamnya berarti menaati Allah dan Rasul-Nya.

Sunah Nabi Shallallahu Al aihi wa Sallam adalah jalan keselamatan bagi orang yang diinginkan Allah keselamatannya dari pertentangan dan bid'ah.

Sunah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk oleh Allah." Kata "khulafa"'adalah jama' dari kata "khalifah", yaitu orang-orang yang mengganti Nabi dalam umatnya dari sisi ilmu, amal, dakwah, jihad, dan politik, yang dipimpin oleh Khulafaurasyidin yang empat : Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali Radhyallahu Anhum. semoga kita bisa bertemu mereka di dalam surga Na'im. Para Khulafa' yang empat dan khalifah-khalifah lain setelah mereka yang mengganti Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam urusan umat ini adalah orang yang kita diperintahkan untuk mengikuti sunah mereka. Tetapi harus diketahui bahwa sunah mereka diurutkan setelah sunah Rasulullah. Seandainya terjadi pertentangan antara sunah mereka dengan sunah Nabi Muhammad maka yang dimenangkan adalah sunah Nabi Muhammad, bukan sunah selainnya. Karena sunah-sunah yang lain adalah mengikuti sunah beliau, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Allah Subhanahu wa Ta'ala melarang orang-orang menghalalkan dan mengharamkan sesuatu berdasarkan keinginan mereka sendiri dalam firman-Nya, "Dan janganlah kamu mrngatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu, 'Ini halal dan ini haram', untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah…." (An-Nahl: I 1 6)
Juga mengingkari orang yang menyariatkan dalam agamanya suatu syariat yang tidak diizinkannya seraya berfirman, "Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yng tidak diizinkan Allah?" (Asy-Syuuraa 2l)
Serta berfirman, "…Katakanlah, 'Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?'" (Yunus: 59)

Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,' Jauhilah urusan-urusan yang dibuat-buat (bid'ah)" adalah dalam masalah keagamaan dan dalam masalah ibadah. Kemudian beliau bersabda, "Sesungguhnya setiap bid'ah itu adalah sesat." setiap bid'ah dalam urusan agama Allah adalah sesat, walaupun pelakunya mengira bahwa itu baik dan sesuai dengan petunjuk, tetapi pada hakikatnya adalah sesat dan tidak menambah, kecuali semakin jauh dari Allah.

Jika terjadi perselisihan antara umat sikap kita adalah :

  1. Jangan menilai yang salah siapa dikarenakan kita tidak mengetahui kondisi yang sebenarnya siapa yang salah sebab akan menyakiti salah satunya.
  2. Tidak ada manfaat yang besar buat kita untuk memberikan penilaian.

Ada suatu pernyataan/kaidah : kenapa kaum muslimin mengalami kemunduran sedangkan kaum non muslim maju? jawabannya hanya satu yaitu karena "meninggalkan agamanya" Kaum muslim mengalami kemunduran karena meninggalkan agamanya dan kaum non muslim maju karen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dosa-dosa Besar ke 30 : MEMAKAN BANGKAI, DARAH, DAN DAGING BABI

  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ Kajian Sunnah Rutin Musholla Baiturrahman Ust. H. Hidayat Husein Allah Ta'ala berfirman, "Ka...