Rabu, 25 Juni 2025

Diwajibkan Mengikuti Ajaran Rasulullah (Wajibnya Meluruskan Shaf Sholat & Anjuran Dalam Berjaga-jaga)

 بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ


Kajian rutin Musholla Baiturrahman 25 Juni 2025, Syarah Riyadhus Shalihin BAB Perintah Menjaga Sunah dan Adab Nabi:

Ust. Syarif Hidayatullah, S.Ag


Hadist ke 151:

Diriwayatkan dari Abu Abdullah An-Nu'man bin Baryir Radhiyallahu Anhuma, dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa sallam bersabda, 'Hendaklah engkau benar-benar meluruskan barisan shalatmu, atau kalau tidak, niscaya Allah akan memalingkan wajah-wajah kalian." (Diriwaytkan Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat Muslim dikatakan, "Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam senantiasa meluruskan shaf-shaf kami, seakan-akan beliau meluruskan kayu-kayu panah hinga beliau menganggap bahwa kami sudah mengerti tentangnya. Kemudian, pada suatu hari beliau keluar untuk shalat hingga ketika akan bertakbir, beliau melihat ada seseorang yang dadanya menonjol ke depan, kemudian bersabda, 'Wahai hamba Allah kamu semua harus benar-benar meluruskan barisanmu, atau kalau tidak, niscaya Allah akan benar- benar memalingkan wajah-wajah kalian "

Para ulama berselisih pendapat tentang makna memalingkan wajah. Sebagian ada yang mengartikan bahwa Allah akan memalingkan wajah mereka secara fisik dengan membalikkan lehernya sehingga wajah orang itu berbeda dengan wajah semula karena Allah Mahakuasa. Allah telah mengubah wajah sebagian anak Adam menjadi kera dengan berfirman kepada mereka, 'Jadilah kalian kera", maka mereka pun menjadi kera' Allah Mahakuasa untuk mengubah leher manusia berbalik sehingga wajahnya berada di punggung. Ini berarti perubahan secara fisik' Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan perubahan di sini adalah perubahan maknawi, yaitu mengubah hati karena hati memiliki arah. Jika hati memiliki kelurusan dalam menuju satu arah, maka dia akan mendapatkan banyak kebaikan; jika berbeda, maka umat ini akan terpecah-belah. Jadi, yang dimaksud dengan perubahan di sini adalah perubahan batin dan inilah penafsiran yang lebih benar; karena telah diriwayatkan disebagian hadits yang bunyinya,' Atau benar-benar Atlah akan memalingkan hati kalian."

Dengan demikian, yang dimaksud dengan sabda beliau,' Atau benar-benar Allah akan memalingkan wajah kalian" adalah arah pandangan kalian, yaitu dengan adanya perubahan hati. Bagaimanapun ini merupakan dalil atas wajibnya kita menyamakan dan meluruskan shaf dan bagi makmum diwajibkan untuk meluruskan barisan mereka. Jika mereka tidak melakukan hal yang demikian, berarti mereka telah menantang azab Allah.

Pernyataan tentang wajibnya meluruskan shaf ini adalah pernyataan yang sahih. oleh karena itu, diwajibkan kepada para imam untuk melihat shaf. Jika mereka mendapati ada kebengkokan shaf atau ada yang lebih maju atau lebih mundur sedikit, mereka harus mengingatkannya. Kadang-kadang Nabi Sholloltahu Alaihi wa Sallam berjalan melewati shaf dan meluruskan dengan tangannya, dari awal shaf hingga akhir. Ketika jamaah sudah menjadi semakin banyak pada masa Khulafaurrasyidin, Umar menyuruh seseorang untuk meluruskan shaf-shaf itu. Jika orang yang diutusnya itu telah kembali dan mengatakan, "Barisan telah lurus", maka barulah beliau bertakbir untuk shalat. Begitu juga yang dilakukan oleh Utsman bin Affan. Beliau juga menyuruh seseorang untuk meluruskan barisan. Jika telah lurus, maka beliau baru bertakbir. Ini semua menunjukkan bahwa Nabi shallallahu Alaihi wa sallam dan Khulafaurasyidin sangat memperhatikan lurusnya barisan.

Disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam meluruskan shaf-shaf sahabat seperti meluruskan tonggak. Artinya, meluruskan secara tepat sehingga tidak ada yang lebih maju atau lebih mundur, seperti barisan sisir yang lurus. Beliau meluruskan barisan seperti meluruskan tonggak hingga ketika mereka telah memahami maksud beliau bahwa meluruskan barisan hukumnya wajib, maka beliau melanjutkan. 

Pelajaran dalam hadist ini : Merapatkan dan meluruskan shaf sholat merupakan bagian sunah Rasulullah. Maka sebelum sholat dikerjakan para Imam melihat kerapihan dari barisan makmumnya.


Hadist ke 152:

Diriwaytkan dari Abu Musa Radhilallahu Anhu, dia berkata, "Pada satu malam di Madinah ada sebuah rumah yang terbakar karena kelalaian penghuninya. Ketika keadaan mereka disampaikan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau pun bersabda, 'Sesunguhnya api itu bisa menjadi musuhmu. Oleh karena itu, apabila kamu hendak tidur, padamkanlah api itu (lampunya)'." (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim).

Api yang diciptakan Allah dan bergolak ini, dijadikan Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya seraya berfirman, "Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dari gosokan-gosokan kayu). Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya? " (Al'Waqi' ah: 7 I - 7 2 )

Jawabnya adalah Engkaulah ya Tuhan kami yang menciptakannya. 

"Kami menjadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi mursafir di padang pasir." (Al'Waqi'ah: 73)

Ini merupakan peringatan yang mengingatkan manusia tentang neraka Jahanam. Sesungguhnya api ini adalah salah satu bagian dari enam puluh bagian dari neraka Jahanam, semoga kita terlindungi darinya.

Allah juga menjadikannya sebagai peringatan sehingga sebagian orang salaf jika ingin mengerjakan suatu kemaksiatan, dia pergi menuju api dan meletakkan jari-jarinya di atasnya seraya berkata kepada dirinya sendiri, "Rasakan panasnya api ini" sehingga jiwanya tidak mengerjakan kemaksiatan yang menjadi penyebab masuknya dia ke dalam neraka.

Dari hadits ini kita dapat mengambil beberapa pelajaran :

  1. Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa manusia harus berhati-hati dalam berbagai macam perkara yang ditakutkan keburukannya. Maka dari itu, manusia diperintahkan untuk memadamkan api sebelum tidur dan tidak mengatakan, "lni Mudah, saya aman darinya." Mungkin dia mengira seperti itu, tetapi ternyata sesuatu yang tidak diinginkannya bisa terjadi.
  2. Dalam hadits ini juga terdapat dalil agar kita mematikan gas karena pada masa sekarang ini banyak orang menggunakan gas. Mencari kebocoran gas hukumnya wajib supaya tidak memenuhi ruangan. Dikarenakan jika gas itu memenuhi ruangan dan ada api menyala, maka dia bisa meledak dan membakar seisi ruangan.
  3. Dalam hadits ini juga terdapat dalil agar kita berhati-hati menggunakan peralatan yang menggunakan tenaga listrik. Orang yang menggunakan peralatan itu haruslah orang yang tahu sehingga tidak menggunakannya dengan salah yang dapat mengakibatkan kebakaran, baik kebakaran kecil maupun besar.

Yang jelas bahwa manusia harus berhati-hati terhadap segala sesuatu yang ditakutkan adanya bahaya di dalamnya.

Jika terhadap api dunia saja kita disuruh untuk berhati-hati, apalagi terhadap segala sesuatu yang dapat menyebabkan azab neraka di akhirat, seperti, kemaksiatan, wasilah dan segala sesuatu yang dapat menyebabkannya. Maka dari itu, sebagian ulama berkata, "Sesungguhnya wasilah memiliki hukum tujuan dan segala sesuatu yang dapat menyebabkan harus dibendung jika itu dapat menyebabkan kepada perbuatan haram karena ditakutkan akan terjadi kehancuran."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dosa-dosa Besar ke 30 : MEMAKAN BANGKAI, DARAH, DAN DAGING BABI

  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ Kajian Sunnah Rutin Musholla Baiturrahman Ust. H. Hidayat Husein Allah Ta'ala berfirman, "Ka...