Jumat, 20 Juni 2025

Selalu Menjaga Amalan Baik

 بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ


Kajian Sunah Musholla Baiturrahman = Syarah Riyadhus Shalihin BAB : Banyaknya Jalan Menuju Kebaikan (5 Maret 2025)

Ust. Syarif Hidayatullah, S.Ag.


Hadist ke 127 :

"Dari Abu Musa Al-Asy'ari Radhiyallahu Anhu, ia berkata, 'Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Siapa saja yang selalu menjaga shalat subuh, dan ashar, niscaya ia masuk surga." (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim).
Barangsiapa yang shalat bardain, maka dia akan masuk surga." Kata "bardain" berarti shalat subuh dan shalat ashar. Demikian itu karena waktu subuh adalah waktu malam yang paling dingin, sedangkan waktu siang yang paling dingin adalah sore hari. Karena itu siapa yang mengerjakan kedua shalat itu dengan tertib dan menjaga keduanya, hal itu dapat menjadi tiket baginya untuk masuk surga.
Dijelaskan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau melihat bulan di malam hari seraya bersabda, "sesungguhnya kamu akan dapat melihat Tuhanmu sebagaimana kamu melihat bulan purnama ini, tiada halangan semasa kamu melihat-Nya, yaitu akan dapat melihat Allah dengan jelas. Sekiranya kamu mampu, maka janganlah kamu lalai dari melakukan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam
matahari, yaitu shalat ashar dan shalat subuh."
Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, "sesungguhnya kamu akan dapat melihat Tuhanmu sebagaimana kamu melihat bulan purnama ini." Dalam hadist ini terdapat penyerupaan antara "melihat" sesuatu dengan "melihat" sesuatu yang lain, tetapi bukan berarti menyerupakan antara objek yang dilihat satu dengan objek yang dilihat lainnya, karena tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah. Kamu akan melihat-Nya dengan penglihatan yang hakiki dan sesungguhnya, seperti manusia melihat bulan pada malam bulan purnama. Jika tidak dimaknai demikian, sesungguhnya Allah terlalu mulia dan terlalu agung untuk disamakan dengan makhluk-Nya. Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda di akhir hadits ini, "Sekiranya kamu mampu, maka janganlah kamu lalai dari melakukan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam matahari, yaitu shalat ashar dan shalat subuh." Yang dimaksud dengan shalat sebelum terbit matahari adalah shalat subuh dan shalat sebelum tenggelam matahari adalah shalat ashar. Kedua shalat ini merupakan sebaik-baik shalat, tetapi yang lebih baik di antara keduanya adalah shalat ashar, karena shalat ashar merupakan shalat penengah seperti yang difirmankan Allah, "Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wuthaa (ashar). Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk. (Al-Baqarah: 238).

Hadist ke 128 :

"Dari Abu Musa Al-Asy'ari Radhiyallahu Anhu, ia berkata, 'Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Apabila seseorang menderita sakit atau sedang bepergian, maka dicatatlah pahala baginya amal perbuatan yang biasa dikerjakannya pada waktu tidak bepergian dan pada waktu sehat'. " (Diriwayatkan Bukhari).
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Apabila seseorang menderita sakit atau sedang bepergian, maka dicatatlah pahala baginya amal perbuatan yang biasa dikerjakannya pada waktu tidak bepergian dan pada waktu sehat." Artinya, jika kebiasaan manusia adalah beramal salih di waktu sehatnya, kemudian sakit sehingga tidak mampu melaksanakannya, maka dicatat baginya pahala secara penuh. Alhamdulillah, ini merupakan nikmat Allah.
Misalnya, jika kebiasaanmu adalah mengerjakan shalat berjamaah, kemudian kamu sakit dan tidak bisa shalat berjamaah, maka tetap akan dicatat untukmu seakan-akan kamu mengerjakan shalat berjamaah dengan mereka dan kamu mendapatkan pahala dua puluh tujuh derajat.
Jika kebiasaanmu pada saat mukim adalah shalat berjamaah, membaca Al-Qur'an, shalat sunah; membaca tasbih, tahlil, dan takbir, lalu kamu bepergian sehingga tidak bisa mengerjakan semua itu, maka akan dicatat pahala untukmu seperti ketika kamu mukim. Misalnya, jika kamu bepergian dan ketika masuk waktu shalat terpaksa kamu harus shalat sendirian karena kamu tidak mempunyai teman, sedangkan kebiasaanmu selalu
shalat berjamaah, maka akan dicatat bagimu pahala shalat berjamaah secara penuh jika kebiasaanmu pada saat mukim mengerjakan shalat berjamaah.
Dalam hal ini terdapat peringatan bahwa orang yang berakal pada saat sehat dan longgar harus berusaha mengerjakan amal salih, sehingga ketika dia sakit atau sibuk, tetap dicatat pahala itu baginya secara penuh.
Gunakan waktu sehatmu, gunakan waktu luangmu, dan kerjakan amal salih, sehingga ketika kamu sibuk, sakit, dan berhalangan lainnya, akan tetap dicatat untukmu pahala secara penuh. Maka dari itu, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Ada dua nikmat yang di dalamnya banyak orang tertipu, yaitu waktu sehat dan waktu luang."

Hadist ke 129 :

"Dari Jabir Radhiallahu Anhu, ia berkata, 'Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Setiap perbuatan baik adalah sedekah'." (Diriwayatkan Bukhari)

Standar suatu ukuran kebaikan:

  1. Standard kebaikan yang paling tinggi adalah kebaikan menurut syariah
  2. Standar kebaikan manusia baik maka hal tersebut juga baik.
  3. Jika terdapat hal yg baik menurut syariah dan menurut manusia baik maka akan baik hal tersebut.
  4. Jika terdapat hal yg baik menurut syariah tetapi manusia menganggap tidak baik maka hal tersebut tetap baik.
  5. Jika terdapat hal yg tidak baik menurut syariah tetapi dianggap baik menurut manusia maka hal tersebut tetap dianggap tidak baik.

Kata "al-ma'ruf" berarti segala sesuatu yang dikenal manusia sebagai sesuatu yang baik atau sesuatu yang dikenal syariat sebagai sesuatu yang baik seperti yang terkandung dalam ibadah. Sedangkan kebaikan lainnya adalah kebaikan yang diketahui manusia dalam mu'amalah. Sedangkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Setiap kebaikan" mencakup kebaikan yang diketahui manusia dari mu'amalah maupun dari
syariat sehingga segala amal yang dengannya digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah disebut sedekah, seperti yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, atau setiap amar ma'ruf dan nahi mungkar adalah sedekah."
Sedangkan segala sesuatu yang dikenal manusia kebaikannya termasuk dalam bidang mu'amalah di antara manusia adalah ma'ruf.
Misalnya berbuat baik kepada orang lain dengan harta, jasa, dan kebaikan-kebaikan lainnya. Juga seperti bertemu dengan saudara dengan wajah berseri-seri bukan dengan wajah cemberut, bersifat lembut dalam berbicara, membahagiakan orang lain dan sebagainya. Maka dari itu, para ulama berkata, "Sesungguhnya termasuk kebaikan jika seorang menjenguk orang sakit dengan memberikan kesenangan kepadanya seraya berkata, 'Kamu terlihat segar' walaupun kenyataannya sebaliknya dan tidak mengatakan, 'Sakitmu parah sekali!'" Dikatakan kepadanya bahwa dia kelihatan segar lebih baik, karena membahagiakan orang sakit menjadi sebab kesembuhannya. Maka dari itu, Anda dapati jika ada orang sakit biasa dan ringan, lalu ada orang berkata kepadanya, 'Ah, ini kecil dan tidak berbahaya", maka dia akan senang dan lupa dengan sakitnya; melupakan sakit termasuk jalan kesembuhan. Sebaliknya jika di dalam hati orang sakit ada perasaan sakit, hal itu menjadi sebab sulitnya kesembuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dosa-dosa Besar ke 30 : MEMAKAN BANGKAI, DARAH, DAN DAGING BABI

  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ Kajian Sunnah Rutin Musholla Baiturrahman Ust. H. Hidayat Husein Allah Ta'ala berfirman, "Ka...