بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ
Kajian Sunnah Musholla Baiturrahman (15 Juni 2025)
Ust. H. Hidayat Husein
Keutamaan dalam Menuntut Ilmu Agama (Syariat Agama Islam)
Bab : Ahlus Sunnah taat kepada pemimpin kaum muslimin.
- Tidak boleh taat terhadap perintah yg di dalamnya terdapat maksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalan kebijakan. HR Al Bukhori 4340, 7257.
- Wajib atas seorang muslim utk mendengar dan taat kepada penguasa pada apa2 yg ia cintai atau ia benci kecuali ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan (maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat) (HR Al Bukhori 2955, 7144, Muslim, at-Tirmidzi).
- Bila mereka memerintahkan perbuatan maksiat, saat itulah kita dilarang utk mentaatinya namun tetap wajib taat dalam kebenaran lainnya.
- Dan diwasiatkan Rasulullah agar bertaqwa kepada Allah Yang Mahamulia lagi Mahatinggi, tetaplah mendengar dan mentaati pemimpin, walau yg memimpin kalian adalah budak habasyah HR Ahmad 126,127, Muslim 1839.Ahlus Sunnah memandang bahwa maksiat kepada pemimpin yang muslim merupakan perbuatan maksiat kepada Rasulullah.
Imam al-Qadhi Ali bin Muhammad bin Abi al-Izz ad-Dimasqy berkata : Hukum mentaati ulil amri adalah wajib (selama tidak dalam kemaksiatan) meskipun mereka berbuat zalim, karena kalau keluar dr ketaatan kepada mereka akan menimbulkan kerusakan yg berlipat ganda dibanding dg kezaliman penguasa itu sendiri. Bahkan bersabar terhadap kezaliman mereka dapat melebur dosa-dosa dan dapat melipatgandakan pahala. Karena Allah tak akan menguasakan mereka atas diri kita melainkan disebabkan kerusakan amal perbuatan kita juga. -> kezaliman pemimpin juga disebabkan salah satunya adalah banyak kezaliman dari rakyatnya.
Apabila rakyat ingin selamat dari kezaliman pemimpin mereka, hendaklah mereka meninggalkan kezaliman itu juga.
Syaikh al-Albani berkata agar umat Islam selamat :
- Hendaklah kaum muslimin bertaubat kepada Allah.
- Hendaklah mereka memperbaiki Aqidah mereka.
- Hendaklah mereka mendidik diri dan keluarganya di atas Islam yg benar sebagai penerapan firman Allah, QS Ar-Rad 11 : Sesungguhnya Allah tidak mengibah keadaan sesuatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yg ada pada diri mereka sendiri.
Untuk menghindarkan diri dari kezaliman sang penguasa bukan dengan cara : demonstrasi, memberontak, mengangkat senjata ataupun dg cara-cara kudeta, karena yg demikian itu termasuk bid'ah dan menyalahi nash-nash syariat yg memerintahkan utk merubah diri kita lebih dahulu.
Ahlus Sunnah wal Jama'ah menganjurkan agar menasihati ulil amri dg cara yg baik serta mendoakan amir yg fasiq agar diberi petunjuk utk melaksanakan kebaikan dan istiqamah di atas kebaikan, karena baiknya mereka bermanfaat untuk dia dan rakyat, menasihati pemimpin harus dilakukan oleh orang yg paham ilmu.
Imam al-Barbahari mengatakan : bila engkau melihat seseorang mendoakan keburukan kepada pemimpin, ketahuilah bahwa orang itu termasuk salah satu pengikut hawa nafsu. Namun, bila engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan kepada seorang pemimpin, ketahuilah bahwasanya ia termasuk Ahlus Sunnah.
Fudhail bin Iyadh berkata : jika aku mempunyai fia yg baik yg akan dikabulkan maka semuanya akan aku tunjukkan bagi para pemimpin, maksud pernyataan tersebut adalah bila doa itu hanya aku tujukan bagi diriku, tdk lebih hanya bermanfaat bagi diriku, namun bila aku tujukan kepada pemimpin dan ternyata para pemimpin berubah menjadi baik, maka semua oranh dan negara akan merasakan manfaat dan kebaikan.
Ahlus Sunnah diperintahkan mendoakan mereka dg kebaikan bukan keburukan meskipun ia seseorang pemimpin yg zalim lagi jahat karena kezaliman dan kejahatan akan kembali kepada diri mereka sendiri sementara bila mereka baik, maka mereka dan seluruh kaum muslimin akan merasakan manfaat dari doanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar