Rabu, 30 Juli 2025

Kewajiban Mengikuti Hukum Allah

 بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ


Kajian rutin Musholla Baiturrahman, Syarah Riyadhus Shalihin BAB Kewajiban Mengikuti Hukum Allah

Ust. Syarif Hidayatullah S.Ag


Hadist ke 195 :

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, "Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menerima ayat 'Lillaahi maa fis samaawaati wamaa fil ardh wa intubduu maa fii anfusikum au tukhfuuhuyhaasibkum bihillaah' (Kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan jika kamu mengungkapkan apa yang ada di dalam hatimu atau menyembunyikannya niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu). 

Para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam merasa berat dengan ayat tersebut. Kemudian, mereka menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sambil berjongkok dan berkata, 'Wahai Rasulullah, kami dapat melakukan amal-amal perbuatan yang dibebankan kepada kami dari yang sekuat tenaga yaitu shalat, jihad, berpuasa, dan sedekah tetapi mengenai kandungan ayat ini kami merasa tidak mampu melaksanakannya. Beliau bersabda 'Apakah kamu akan berkata seperti yang dikatakan oleh para Ahli Kitab sebelummu? Mereka mengatakan 'Kami mendengar dan kami melanggarnya' Janganlah seperti mereka, tetapi katakanlah, 'Sami'naa wa atha'naa ghafraanaka rabbanaa wailaikal mashir' (Kami nendengar dan kami mentaatinya Ampunilah kami wahai Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali).

Ketika ayat tersebut dibaca dan lidah mereka terasa ringan untak membaca kemudian Allah menurunkan ayat selanjutnya, 'Amanar rasuulu bimaa unzila ilaihi min rabbihi wal mu'minuuna kullun aamana billaahi wa malaaikatihi wa kutubihi warusulihi laa nufariqu baina ahadim mirrusulihi wa qaaluu sami'naa wa atha'naa ghufraanaka rabbanaa wa ilaikal mashiir.' (Rasul telah beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikal Nya, Kitab-kitab Nya dan Rasul-rasul Nya' (mereka mengatakan),' Kami tidak membeda-bedakan antara seorang (dengan yang lain) dari Rasul-Rasul Nya dan mereka mengatakan' Kami mendengarkan dan kami menaati'. Mereka berdoa 'Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali). 'Ketika mereka telah melakukan kandungan ayat tersebut, kemudian Allah Ta'ala me-mansukh-kan ayat sebelumnya dengan ayat sesudahnya, yaita 'Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus'ahaa lahaa maa kasabat wa'alaihaa maktasabat Rabbanaa laatuaakhidznaa in nasiina au akhtha'naa' (Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesangupannya ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya (Mereka berdoa), 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah).

Dijawab, 'Ya Rabbanaa walaa tahmil 'alainaa ishran kamaa harnaltahuu 'alal ladziina min qablinaa' (Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami). Dijawab, 'Ya Rabbanaa walaa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bih' (Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak sanggup memikulnya). Dijawab, 'Ya Wa'fu 'annaa waghfir lanaa warhamnaa anta maulaanaa fanshurnaa'alal qaamil kaafiriin'. (Maafkanlah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir). (Al-Baqarah:284-286) Dijawab, 'Ya'." (Diriwayatkan Muslim)

Menurut para sahabat, tuntutan yang ada pada ayat ini sangat berat, sehingga tidak seorang pun kuat menahan hatinya untuk tidak berbicara tentang berbagai macam perkara yang jika dihitung, maka binasalah manusia. Nabi shallallahu Alaihi wa sallam bersabda, 'Apakah kamu akan berkata seperti yang dikatakan oleh para Ahli Kitab sebelummu? Mereka mengatakan,' Kami mendengar dan kami melanggarnya''. Yang dimaksud dengan Ahlul Kitab di sini adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Kitab orang Yahudi adalah Thurat, yaitu kitab yang paling mulia setelah Al-Qur'an. Sedangkan kitab orang Nasrani adalah injil, yaitu kitab penyempurna Thurat. Tetapi orang-orang Yahudi dan Nasrani itu menentang nabi-nabi mereka dan berkata, "Kami mendengar dan kami melanggar." Apakah kalian ingin menjadi seperti mereka? Janganlah seperti mereka.

Demikianlah yang seharusnya dilakukan seorang Muslim jika mendengar perintah Allah dan Rasul-Nya, yaitu mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat" Setelah itu, mengerjakan sesuai dengan kemampuannya karena Allah tidak membebani seseorang dengan sesuatu yang tidak kuasa dilakukannya.

Ini menunjukkan betapa besarnya pengagungan para sahabat terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya. Adapun kita tidak seperti itu, tetapi jushu mengatakan, "Perintah ini wajib ataukah sunah, Larangan ini haram ataukah makruh. Jika sampai hal ini terjadi, tanyalah dirimu sendiri, apakah dengan itu kamu berdosa atau kah tidak? Jika kamu merasa berdosa, maka kamu harus segera bertaubat dan jika tidak berdosa berarti kamu merasa agak sedikit lega. Oleh karena itu, jika diajukan sebuah perintah kepadamu janganlah kamu bertanya apakah ini wajib ataukah sunah, seperti yang dilakukan para sahabat terhadap Rasulullah Shallallahu Aloihi wa Sallam. Mereka melakukan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang.

Namun demikian, kami berikan kabar gembira kepada Anda tentang sebuah hadits yang disabdakan Nabi bahwa "sesungguhnya Allah memaafkan kepada umatku apa yang terbetik di dalam hatinya selama tidak dikerjakan atau dibicarakan." Alhamdulillah, berarti segala dosa yang terbetik di dalam hatimu diampuni Allah, selama kamu tidak melakukannya dan tidak membicarakannya hingga walaupun lebih besar dari gunung.

Kita patut memuji. Bahkan, sebagian sahabat berkata, "Ya Rasulullah, kami dapati dalam diri kami ada seperti bara api, tetapi kami tidak membicarakannya. " Rasulullah Shalla llahu Alaihi wa Sallam menjawab, " Itulah keimanan yang murni." Setan tidak akan membisikkan gangguan itu ke dalam hati yang rusak dan hati yang di dalamnya ada keraguan, tetapi gangguan itu akan dilemparkan ke dalam hati seorang Mukmin yang bersih untuk merusaknya.

Ketika ditanyakan kepada Ibnu Abbas atau lbnu Mas'ud, "Sesungguhnya orang Yahudi jika masuk ke dalam shalat atau ibadahnya, mereka tidak diganggu." Dia menjawab, "Setan tidak mengganggu hati orang yang rusak. orang-orang Yahudi dan Nasrani, hati mereka rusak sehingga setan tidak mengganggu mereka ketika shalat, karena pada dasarnya hati mereka telah rusak. setan hanya mengganggu hati seorang Muslim yang shalatnya benar dan diterima, untuk merusaknya. Dia akan mendatangi orang Mukmin yang keimanannya benar untuk merusak keimanan itu' AlhamdulilLah, orang yang diberi kesucian hati dan badan oleh Allah, yaitu Muhammad, telah menjelaskan kepada kita cara mengobati dan menyelesaikannya. Oleh karena itu, beliau menyuruh kita agar memohon perlindungan kepada Allah dan pasrah kepada-Nya. Jika seseorang merasakan adanya gangguan setan ini, maka dia membaca, "A’uudzu billahi min asy-sya ithaan ar-rajiim." (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk) untuk berpaling darinya dan agar tidak condong kepadanya lagi. Setelah itu, lanjutkan aktivitasmu. Jika setan melihat bahwa tidak ada jalan baginya untuk merusak hati seorang Mukmin yang bersih, dia akan kalah dan pergi.

Allah tidak membebani sesuatu yang berada di luar kemampuan manusia dan tidak kuasa mereka kerjakan, seperti gangguan yang ada di dalam hati. Akan tetapi, jika seseorang belum melaksanakannya, tidak mempercayainya, dan tidak mengaplikasikannya, maka dia tidak berdosa karena hal itu berada di luar kekuasaannya.

Oleh karena itu, Allah tidak membebani dalam syariatnya sesuatu yang tidak kuasa dilakukan manusia. Jika dia tidak kuasa melakukan sesuatu, dia boleh bergeser kepada penggantinya jika kewajiban itu ada penggantinya atau gugur jika tidak ada penggantinya. Adapun ketika diminta agar tidak memberikan beban yang tidak kuasa dipikul, maka Allah menjawab, "Ya, Aku tidak akan membebanimu dengan sesuatu yang kamu tidak kuasa memikulnya.

Ketiga kalimat: maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami, masing-masing kalimat mempunyai makna. 

  1. Maafkanlah kami maksudnya maafkanlah kami karena kekurangan kami dalam menjalankan kewajiban.
  2. Ampunilah kami karena kami melanggar perbuatan haram.
  3. Rahmatilah kami untuk melakukan amal salih. 

Setiap manusia, kalua tidak mengerjakan kewajiban, pasti melanggar hal-hal yang diharamkan.

Jika dia meninggalkan kewajiban, maka dia berkata, "Ampunilah kami atas dosa yang kami perbuat" atau meminta penguat, pendukung, dan penyemangat dalam kebaikan. Dengan demikian, ketiga kalimat itu memiliki makna sendiri-sendiri. "Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami, engkaulah penolong kami," atau penolong kami dalam urusan dunia dan akhirat, maka tolonglah kami di dunia dan tolonglah kami untuk mengalahkan orang-orang kafir.

"Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir", kadang orang mengira bahwa yang dimaksud dengan musuh-musuh kami di sini adalah orang-orang kafir, tetapi sebenamya cakupannya lebih umum lagi sehingga mencakup kemenangan atas setan, karena setan adalah pemimpin orangorang kafir.

Jadi, dari ayat yang terakhir ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa Allah tidak akan membebani kita dengan sesuatu yang kita tidak kuasa menanggungnya dan Allah tidak akan membebani kita dengan beban yang berat. Sesungguhnya gangguan yang ada dalam hati kita, selama kita tidak melaksanakannya, tidak merasa tenang dengannya, dan tidak mengatakannya, maka hal itu tidak berbahaya bagi kita.


Wallahu a'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dosa-dosa Besar ke 30 : MEMAKAN BANGKAI, DARAH, DAN DAGING BABI

  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ Kajian Sunnah Rutin Musholla Baiturrahman Ust. H. Hidayat Husein Allah Ta'ala berfirman, "Ka...