Rabu, 19 November 2025

Dosa-Dosa Besar ke 15 : Menyombongkan Diri, Takabur, Ujub, dan Angkuh

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


Kajian Sunnah Rutin Musholla Baiturrahman

Ust. Hidayat Husein


Allah Ta'ala berfirman : 

  • Dan (Musa) berkata, "sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari perhitungan. (QS. Ghaafir:27).
  • Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat- ayat Allah tanpa alasan bukti yang sampai kepada mereka, yang ada dalam dada mereka hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang tidak akan mereka capai, maka mintalah perlindungan kepada Allah." (QS. Ghaafir: 56).
  • Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kamu kepada Adam! Maka mereka pun sujud kecuali lblis. la menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir." (QS. AlBaqarah:34).
  • Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri." (QS. Luqmaan: 18).
  • Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi, Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Qashash: 83).


Nabi Shallallahu Alaihiwa Sallam bersabda :

  • "Ketika seseorang berjalan dengan sombongnya karena memakai kain burdah (kain bergaris-garis), tiba-tiba Allah membuatnya terperosok ke tanah. la akan terus menerus meronta-ronta di dalam tanah sampai tiba hari Kiamat.
  • "Orang-orang yang lalim dan orang-orang yang sombong akan dikumpulkan di hari Kiamat (kelak) seperti di hari Kiamat (kelak) seperti biji yang dininjak-injak oleh manusia.
  • Kesombongan adalah meremehkan kebenaran dan merendahknn mnnusia.
  • Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.
  • Kebesaran adalah pakaian-Ku dan kesombongan adalah jubah-Ku. Barangsiapa yang melepaskannya dari-Ku, maka akan Aku lemparkan ke dalam neraka jahannam HR. Muslim). Maksud dari kalimat "melepaskannya" artinya merebutnya.
  • Surga dan neraka mengadu kepada Allah. Surga berkata, wahai Rabb kenapa yang masuk (ke dalam surga) adalah orang-orang lemah dan orang-orang rendahan. Neraka berkata, "aku telah dibikin gemuk (kenyang) oleh orang-orang yang lalim dan orang-orang yang sombong."
  • Maukah aku kabarkan kepada kalian mengenai penduduk neraka? Yaitu semua orang yang kasar yang berjalan dengan angkuh dan menyombongkan diri.


Abu Hurairah berkata Ada tiga golongan manusia yang pertama kali masuk neraka: 

  1. Pemimpin yang kejam
  2. Orang kaya yang tidak menunaikan zakatnya 
  3. Orang miskin yang sombong.


Syarah :

Syaikh Utsaimin Rahimahullah berkata, "Kesombongan adalah seseorang yang memuji dirinya sendiri dan menyombongkan diri dengan nikmat dari Allah, seperti nikmat (mempunyai) anak, harta, ilmu, kedudukan kekuatan jasmani, atau yang serupa dengan itu. Yang penting bahwa makna sombong adalah ketika ada seseorang yang memuji dirinya sendiri karena memiliki banyak nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadanya dan menyombongkan dirinya di depan orang lain.

Sedangkan membicarakan nikmat Allah seperti dengan memperlihatkan nikmat Allah yang ada pada seseorang dengan bersikap tawadhu (rendah hati), maka sikap seperti ini tidak dianggap berdosa. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala : Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur ). "(Qs.Adh-Dhuhaa: 11 ). Juga berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam : Aku adalah pemimpin anak Adam di hari Kiamat dan tidak ada kesombongan.

Maksud perkaataan beliau, "dan tidak ada kesombongan, " maksudnya beliau tidak menyombongkan dengan pangkat seperti itu (pemimpin anak Adam) Adapun yang dimaksud dengan "seuwenang-wenang" yaitu sikap memusuhi orang lain. Misalnya dengan menganiaya orang lain, seperti menganiaya harta, tubuh, keluarga, atau kedudukannya, dan lain sebagainya. Jenis permusuhan sangat banyak, tetapi semuanya tercakup dalam satu kalimat, yaitu bentuk penganiayaan terhadap kehormatan sesama muslim yang diharamkan (oleh Allah).

Allah Ta'ala telah melarang hamba-Nya untuk menganggap suci diri mereka sendiri. Maksudnya, memuji dirinya sendiri dengan menyombongkan diri terhadap orang lain. Misalnya ia mengatakan kepada temannya, "Saya lebih tahu daripada kamu!" "Saya lebih taat dibanding kamu!" "Saya lebih kaya daripada kamu!" dan kata-kata lainnya. Ini semua merupakan sikap sok suci dan merupakan bentuk kesombongan.

Bentuk dari menyucikan jiwa yang dilarang adalah ketika seseorang menyombongkan diri dan merasa lebih tinggi dengan karunia yang ia terima dari Allah Ta'ala, seperti kebaikan, semangat untuk beribadah, dan ilmu. Sedangkan yang dimaksud dengan ayat di atas (QS.As-Syams: 9) adalah orang yang berusaha menyucikan jiwanya dan menghindari perbuatan hina.

Ayat-ayat yang masih samar (mutasyabih) yang banyak tercantum di dalam Al-Qur'an, oleh orang-orang sesat dijadikan sebagai alat unfuk mengecoh manusia. Mereka mengatakan, "Lihatlah, terkadang Al-Quran 'Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci." (QS. An-Najm: 32), dan di lain waktu Al-Qur'an memuji orang-orang yang menyucikan jiwanya.

Padahal ayat-ayat Al-Qur'an tidak akan ada yang bertentangan antara satu ayat dengan ayat yang lainnya, sebagaimana yang telah diterangkan oleh Atlah Ta'ala.

Di dalam Al-Qur'an tidak akan ada ayat-ayat yang bertentangan. Nafi' bin Al-Azraq telah banyak mengupas ayat-ayat mutasyabihat yang nampak seperti bertentangan yang diterima dari Ibnu Abbas. Kemudian Ibnu Abbas menjawabnya dan dicantumkan oleh Imam As-Suyuthi di dalam kitabnya, " Al-ltqaan fii Uluumil Qur'aan."

Makna ayat yang berbunyi, "Melampauibatas dibumi tanpa (mengindahkan) kebenaran," maksudnya mereka melampaui batas tanpa alasan yang dibenarkan. Sikap melampaui batas ini disebutkan oleh Allah Ta'ala dengan tambahan kata "Tanpa (mengindahkan) kebenaran," Padahal setiap sikap melampaui batas biasanya dilakukan tanpa (mengindahkan) kebenaran. Jadi, kata tambahan tersebut bukan untuk memalingkan maknanya, justru berfungsi sebagai penjelas.

Kemudian penulis Riyadhus Shalihin (Imam An-Nawawi) menyebutkan hadits Iyadh bin Himar bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda "Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar tak ada seorang pun yang berbuat aniaya terhadap orang lain.
Hadits ini merupakan penguat ayat di atas. Hadits ini menyatakan bahwa sikap sewenang-wenang (aniaya) merupakan dosa besar. Hadits di atas bermakna bahwa Allah Ta'ala menjelaskan larangan menganiaya orang lain dan anjuran untuk bersikap tawadhu kepada Allah Ta'ala dan tunduk terhadap kebenaran.


Wallahu a'lam al-muwaffiq. 


Kitab Al-Kabair : Imam Adz-Dzahabi - Disyarahkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dosa-dosa Besar ke 30 : MEMAKAN BANGKAI, DARAH, DAN DAGING BABI

  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ Kajian Sunnah Rutin Musholla Baiturrahman Ust. H. Hidayat Husein Allah Ta'ala berfirman, "Ka...