Rabu, 22 Oktober 2025

Dosa-Dosa Besar ke 9 : BERDUSTA ATAS NAMA NABI

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


Kajian Sunnah Rutin Musholla Baiturrahman

Ust. Hidayat Husein


Sebagian para ulama berpendapat bahwa berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam merupakan kekafiran yang bisa mengeluarkan pelakunya dari agama (dianggap murtad).

Tidak diragukan lagi bahwa sengaja berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya untuk menghalalkan sesuatu yang haram dan mengharamkan sesuatu yang halal merupakan kekufuran mumi.


Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda : 

  • Sesungguhnya berdusta atas namaku tidak sama dengan berdusta atas nama orang lain (selain aku). Barang siapa yang dengan sengaja berdusta atas namaku, maka siap-siaplah mengambil tempat duduknya di neraka.
  • Watak seorang mu'min bisa bermacam-macam, kecuali tidak untuk berwatak pengkhianat dan pendusta.
  • Barang siapa yang meriwayatkan sebuah hadits dariku dan ia mengetahui bahwa hadits tersebut adalah hadits palsu (dusta), maka ia termasuk salah satu di antara para pendusta.


Syaikh Utsaimin Rahimahullah berkata, "Berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya merupakan bentuk dusta yang paling besar. Hal ini didasarkan atas firman Allah Ta'ala :

"siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengadaadakan kebohongan terhadap Allah untuk menyesatkan orang-orang tanpa pengetahuan?" Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orung yang zhalim." (QS. Al-An'aam: 144).


Berdusta atas nama Allah ada dua jenis:

  1. Dengan cara mengatakan bahwa Allah telah berfirman seperti ini. Padahal ia telah berkata dusta. Ia berdusta atas nama Allah, padahal Allah tidak pemah mengatakannya.
  2. Dengan cara menafsirkan firman Allah bertentangan dengan makna yang dikehendaki-Nya. Karena yang dimaksudkan dari sebuah firman Allah adalah makna firman tersebut. Maka apabila ia mengatakan "Yang dimaksud Allah (di dalam ayat ini) adalah seperti ini dan seperti itu. Maka ia telah berdusta atas nama-Nya. Ia telah berani mengatakan sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Allah. Akan tetapi, untuk dusta jenis kedua ini, jika ucapan tersebut keluar dari hasil ijtihad yang salah dalam menafsirkan sebuah ayat maka Allah Ta'ala akan memaafkannya. 


Karena Allah Ta'ala berfirman : 

  • "Dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama." (QS. Al Hajj: 78).
  • Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengankesanggupannya." (QS. Al-Baqarah:286).


Adapun jika dengan sengaja menafsirkan firman Allah dengan sesuatu yang tidak dimaksudkan oleh Allah karena mengikuti hawa nafsu atau untuk memuaskan kepentingan seseorang atau untuk yang lainnya, maka ia termasuk orang-orang yang berdusta dengan mengatasnamakan Allah.

Demikian juga halnya dengan orang yang berdusta atas nama RasuIullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Misalnya dengan mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda begini. Padahal beliau tidak pemah mengatakannya. Namun, orang tersebut hanya ingin berdusta dengan mengatasnamakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Demikian juga halnya jika menafsirkan hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan maknanya. Maka ia telah berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Inilah dua macam dusta yang termasuk dusta yang paling jahat. Yaitu berdusta atas nama Allah dan berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Di antara manusia yang paling banyak berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah orang-orang Syi'ah Rafidhah. Karena tidak ada satu pun kelompok ahli bidah yang lebih banyak berdusta atas nama Rasulaullah Shallallahu Alaihi wa Sallam daripada kelompok mereka (Syi'ah) sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama Rahimahumullah ahli ilmu "Musthalahul Hadits." Mereka adalah golongan manusia yang paling sering membuat hadits palsu.

Para ulama berkata, "Sesungguhnya orang yang paling sering berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah orang-orang Syi'ah Rafidhah."


Wallahu a'lam al-muwaffiq. 


Kitab Al-Kabair : Imam Adz-Dzahabi - Disyarahkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dosa-dosa Besar ke 30 : MEMAKAN BANGKAI, DARAH, DAN DAGING BABI

  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ Kajian Sunnah Rutin Musholla Baiturrahman Ust. H. Hidayat Husein Allah Ta'ala berfirman, "Ka...