بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ
Kajian rutin Musholla Baiturrahman 17 September 2025, Syarah Riyadhus Shalihin Bab Tolong Menolong Dalam Kebaikan dan Ketakwaan.
Ust. Syarif Hidyatullah S.Ag
Allah Subhanahuwa Ta'ala berfirman, ,,... Dan bertolong- menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan.... "(Al'Maidah: 2)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
"Demi masa sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih dan bernasiat dengan kebenaran dan kesabaran." (Al-'Ashr: 1-3)
Imam Syafi'i mengatakan suatu perkataan yang artinya, "Sesungguhnya manusia atau kebanyakan mereka lalai memikirkan surat ini.
Perintah dalam firman Allah, "Dan bertolong-menolonglah" adalah perintah yang bersifat wajib untuk sesuatu yang wajib, dan sunah untuk sesuatu yang sunah. Begitu juga tolong-menolong dalam ketakwaan, merupakan perkara wajib dalam hal-hal yang diharamkan, dan perkara sunah dalam hal-hal yang dimakruhkan.
Sedangkan dalil kedua tentang tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan adalah seperti yang disebutkan penulis dalam menukil surat Al-Ashr: "Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih dan berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran." (Al-'Ashr: 1-3) oleh karena itu, Allah bersumpah demi masa, dan masa berarti waktu. Allah bersumpah demi waktu karena waktu merupakan tempatnya amal perbuatan dan diantara manusia ada yang memenuhi masanya dengan kebaikan dan ada pula yang memenuhi masanya dengan keburukan. Allah bersumpah dengan masa karena adanya kesesuaian antara apa yang disumpahi dengan apa yang terkandung di dalam sumpah itu, ya itu amal manusia. Allah berfirman, "sesungguhnya manusia benar-benar dalam keadaan merugi." Manusia bersifat umum mencakup segala manusia, baik Mukmin, kafir, adil, fasik, laki-laki maupun perempuan. semua manusia dalam keadaan merugi, merugi dalam setiap amalnya. Merugi atasnya dan berpayah-payah di dunia, tetapi tidak membawa faidah di akhirat.
Kecuali orang-orang yang memiliki empat sifat, yaitu: orang-orang yang beriman, beramal salih, saling berwasiat dalam kebenaran dan saling benrwasiat dalam kesabaran. Lalu, mereka memperbaiki diri dengan keiimanan dan amal salih, serta memperbaiki orang selain mereka dengan saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran.
Hadist ke 167:
Dari Abu Abdurrahman bin Zaid bin Khalid Al-Juhani Radhilallahu Anhu, dia berkata ,'Rasulullah shallallahu Alaihi wa sallam bersabda,,siapa yang membantu menyiapkan persiapan untuk orang yang berperang di jalan Allah, maka samalah halnya dia ikut berperang dan siapa yang menjaga atau memperhatikan keluarga yang ditinggalkannya dengan baik, berarti dia juga telah ikut berperang." (Diriwayatkan Bukhari-Muslim).
Hadist ke 168:
Diriwaytkan dari Abu sa'id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu, ia berkata "Bahwasanya Rasulullah shallailahu Alaihi wa sallam mengutus sepasukan tentara. ke bani Lihyan yang termasuk suku Huzail, kemudian beliau bersabda, 'Hendaknya tiap dua orang dalam satu keluarga yang satu keluar dan yang lain menjaga keluarga-keluarga yang ditinggai, niscaya pahalanya terbagiantara keduanya'. " ( Diriwayatkan Muslim).
Penulis An-Nawawi ketika menjelaskan bab "Tolong Menolong dalam Kebaikan dan Ketakwaan" ini, meriwayatkan sebuah hadits dari Nabi Shalallahu Alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda, ,,siapa yang membantu menyiapkan persiapan untuk orang yang berperang di jalan Allah, maka samalah halnya dia ikut berperang dan siapa yang menjaga atau memperhatikan keluarga yang ditinggalkannya dengan baik, berarti dia juga telah ikut berperang."
Ini termasuk dalam bab tolong menorong dalam kebaikan dan ketakwaan jika seseorang membantu menyiapkan persiapan orang yang akan berperang dijalan Allah, seperti, kendaraan, bekal, dan senjata. Jika dia telah mempersiapkan ketiga hal tersebut, maka dia telah dianggap berperang atau dicatat pahalanya seperti pahala orang yang berperang karena dia telah membantunya untuk berbuat baik.
Begitu juga orang yang menggantikan perannya dalam keluarga, maka dia telah berperang, artinya jika seorang pejuang ingin berperang, tetapi dia merasa berat meninggalkan keluarganya, siapa yang akan mengurus kebutuhan mereka, lalu dia mewakilkan kepada seorang lelaki Muslim dan dia menjawab, "Saya akan menjaga keluargamu dengan baik", maka orang yang mau menggantikannya itu akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berperang karena dia telah menolongnya.
Jadi, membantu pejuang bisa dilakukan dengan dua cara:
- Membantunya dalam menyiapkan kendaraan, bekal, dan senjata.
- Membantunya dengan menjaga dan mencukupi keluarganya. Ini termasuk bantuan terbesar karena banyak orang yang merasa keberatan menanggung kebutuhan keluarga orang lain. Jika ada orang yang sanggup menanggung biaya hidup pejuang yang sedang berjuang itu selama ditinggal perang, berarti dia mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang berperang.
Dari sini dapat diambil pelajaran bahwa setiap orang yang membantu seseorang dalam menaati Allah, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahalanya. Jika kamu membantu orang yang menuntut ilmu untuk membelikan buku atau mengamankan tempat tinggal atau menafkahi dan sebagainya, maka kamu mendapatkan pahala atau seperti pahalanya tanpa dikurangi pahalanya sedikit pun. Begitu juga jika karnu membantu seseorang yang hendak mengerjakan shalat, seperti, menyiapkan peralatan shalat berupa tempat, pakaian, peralatan wudhu, dan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam shalat, maka kamu akan mendapatkan pahala shalatnya, tanpa dikurangi sedikit pun.
Kaidah umum yang dapat ditarik dari hadits ini bahwa siapa yang menolong seseorang dalam menaati Allah, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahalanya tanpa dikurangi sedikit pun dari pahalanya.
Wallahu a'lam al-muwaffiq.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar