بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Kajian Sunnah Rutin Musholla Baiturrahman
Ust. Hidayat Husein
Allah Ta'ala berfirman :
- Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas dan pendusta." (QS. Ghaafir: 28)
- Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta. (QS. Adz-Dzaryaat: 10)
- Kemudian marilah kita bermubahalah agar laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta." (QS. Ali Imraan: 61)
Nabi Shallallahu Alaihiwa Sallam bersabda :
- Sesungguhnya kedustaan itu akan menjerumuskan kepada keiahatan, dan kejahatan itu akan menjerumuskan ke dalam neraka. Seseorang yang biasa berdusta maka di sisi Allah ia akan dicap sebagi pendusta (Muttafaq Alaih).
- Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga : jika berkata ia berdusta, jika berjanji ia ingkar janji, dan jika diberi amanah ia berkhianat.
- Ada empat sifat yang apabila dimiliki oleh seseorang maka ia adalah seorang munafik tulen. Barang siapa yang hanya memiliki satu sifat, artinya ia telah tertulari sifat kemunafikan sampai ia meninggalkannya. Yaitu jika diberi kepercayaan ia berkhianat, jika berkata ia berdusta, jika berianji ia ingkar janji dan jika bersengketa ia selalu berbuat curang.
- Barangsiapa yang mengaku telah berimpi padahal tidak mimimpikannya, maka di hari Kiamat kelak ia akan disuruh untuk menggabungkan dua biji gandum dan ia tidak akan bisa melakukannya." (HR. Al-Bukhari)
- Sesungguhnya kedustaan yang paling dusta adalah seseorang yang (mengaku) melihat sesuatu dengan kedua matanya padahal kedua matanya tidak melihatnya." (HR. Al-Bukhari)
- Adapun seseorang yang aku lihat sedang merobek-robek rahang bawahnya sampai tengkuknya dan dari hidungnya sampai ke tengkuknya dan dari matanya sampai ke tengkuknya, maka sesungguhnya orang tersebut adalah orang yang berangkat pagi-pagi dari rumahnya kemudian berdusta sampai (dustanya) memenuhi ufuk.
- Seorang mu'min diciptakan wataknya di atas segala sesuatu kecuali (tidak untuk) sifat khianat dan sifat dusta." (Diriwayatkan dengan dua sanad yang dha'if dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam).
- Sesungguhnya di dalam kata-kata untuk berkilah memiliki celah untuk berdusta.
- Seseorang akan dikatakan berdosa hanya dengan menceritakan setiap ucapan yang didengarnya." (HR. Muslim).
- Orang yang pura-pura merasa punya dengan sesuatu yang tidak ia punya, seperti orang yang mengenakan dua pakaian dusta." (HR. Muslim).
- Jauhilah sikap berprasangka, karena prasangka itu ucapan paling dusta (Muttafaq Alaih).
- Ada tiga golongan manusia yang tidak akan diajak bicara oleh Allah... (al-hadits). Di antaranya, seorang raja yang pendusta.." (HR. Muslim).
Syaikh Utsaimin Rahimahullah berkata, Berdusta atas nama orang lain terdiri dari dua bentuk :
- Dustanya orang yang menampakkan kepada orang lain seolah-olah dirinya adalah orang shalih beriman dan bertakwa. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Sebaliknya ia adalah orang yang kafir dan sesat. Dusta ini merupakan bentuk kemunafikan bahkan termasuk dosa nifak yang paling besar yang telah Allah Ta'ala jelaskan di dalam firmanNya, "Di antara manusia ada yang berkata, "Kami beriman kepada Allah dan hari akhir," padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman." (QS. Al-Baqarah: 8). Mereka mengucapkan hal tersebut dengan mulut mereka. Mereka berani bersumpah palsu, padahal mereka mengetahuinya. Dalil-dalil tentang hal ini sangatbanyak, baik di dalam Al-Qur'an maupun di dalam hadits Rasulullah.
- Berdusta ketika berbicara dengan orang lain. seperti seseorang berkata, "Aku pemah mengatakan hal ini kepada si fulan.,, Padahal ia tidak pernah mengatakannya. Atau ia mengatakan: ,,Si fulan telah berkata begini." Padahal si fulan tersebut tidak pernah mengatakannya. Atau ia berkata "Si fulan telah datang!" padahal si fulan belum datang dan banyak contoh lainnya. Semua perbuatan tersebut termasuk perkara yang diharamkan dan termasuk salah satu tanda dari kemunafikan. Seperti sabda Rasulullah shallallahu Alaihi wa sallam: "Tanda-tanda orang munafik ada tiga: Apabila berbicara, ia berdusta.
Sesungguhnya pendengaran penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggung jawabannya. Ketika engkau tidak memiliki pengetahuan dilarang untuk mengatakannya terlebih lagi jika engkau memiliki ilmunya, tetapi menyampaikannya tidak sesuai dengan kebenaran., Hal ini lebih berbahaya dan lebih besar dosanya. Kita dapat mengetahui bahwa apabila orang sedang membicarakan sesuatu, maka ada tiga kemungkinannya :
- Ia membicarakan topik tersebut berdasarkan ilmu Pengetahuan yang dimilikinya. Maka pada dasarnya pembicaraannya tersebut dibolehkan selama tidak menimbulkan masalah dan kerusakan.
- Ia memiliki ilmunya tetapi ia malah menyamPaikan sesuatu yang bertentangan dengan ilmunya. Perbuatannya ini dianggap sebuah kedustaan.
- Ia menyampaikan sesuatu tanpa ilmu dan tidak mengetahui bahwa hal yang disampaikannya bertentangan dengan kebenaran. Hal semacam ini jelas-jelas terlarang, seperti yang dijelaskan dalam ayat di atas. Oleh karena itu, setiap orang dilarang berbicara dalam dua hal : Pertama, jika ia mengetahui dan menyadari bahwa hal yang ia bicarakan bertentangan dengan perkara yang sebenarnya. Kedua, jika ia membicarakan sesuatu yang tidak ia ketahui. Semua jenis pembicaraan ini dilarang. Adapun jika ia berbicara tentang suatu masalah dan ia memiliki pengetahuan tentangnya, maka hal tersebut dibolehkan.
Hal yang perlu diketahui bahwa dosa berdusta akan berlipat ganda sesuai dengan objek yang dijadikan sasarannya. Berdusta dalam bermuamalah "interaksi" dengan sesama manusia, dosanya jauh lebih besar dibandingkan dengan jika seseorang berdusta dalam ucapan. Contohnya seseorang yang selalu berdusta ketika bermuamalah, seperti selalu berdusta ketika berbisnis. Ketika mengambil atau memberikan barang dagangan, maka dosa dalam hal ini sangat besar. Apabila ia selalu berdusta di dalam transaksi jual-belinya, maka keberkahan jualbelinya akan hilang.
Semua keuntungan yang didapatkan dari hasil dusta, baik dengan cara menaikkan harga barangnya sehingga menjadi mahal atau jumlah barang yang dibeli jauh lebih banyak dari yang lazim, maka semua hukumnya haram karena dihasilkan dari dusta dan dusta itu batil. Semua perbuatan yang terwujud karena hasil kebatilan adalah bathil. Demikian pula halnya ketika berdusta saat menjaiakan barang dagangannya. Contohnya seseorang berkata, "Barang-barang ini sangat bagus dan berkualitas tinggi." Padahal ucapannya ini hanya dustabelaka. Perbuatannya ini termasuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Kasus seperti ini banyak ditemukan pada para penjual mobil. Seseorang menjual mobilnya lewat tangan makelar. Si pemilik mobil mengetahui bahwa mobilnya cacat dan ketika ia menawarkan mobilnya kepada para calon pembeli, ia menyembunyikan cacat mobil- nya. Praktik jual beli semacam ini haram hukumnya. Apabila si penjual mengetahui cacat pada mobilnya dan ia menyembunyikannya seraya berkata kepada calon pembeli, "Saya jamin mobil ini tanpa cacat." Cara seperti ini jelas diharamkan. Kecuali jika si penjual benar-benar tidak mengetahui cacat mobilnya, tetapi ia merasa khawatir bahwa mobilnya akan bermasalah, maka ia dibolehkan untuk mengatakan bahwa mobilnya baik dan tidak ada cacat sedikit pun.
Wallahu a'lam al-muwaffiq.
Kitab Al-Kabair : Imam Adz-Dzahabi - Disyarahkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin