Selasa, 11 November 2025

Menggunakan Kata Perumpamaan Dalam Berdakwah

  بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ


Kajian Sunnah Musholla Baiturrahman, Syarah Riyadhus Shalihin Bab Amar Ma'ruh dan Nahi Mungkar.

Ust. Syarif Hidyatullah S.Ag


Hadist ke 175

Diriwayatkan dari Nu'man bin Basyir Radhiyallahu Anhuma, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, "Perumpamaan orang yang selalu melaksanakan hakum-hukum Allah dan orang yang terjerumus di dalamnya bagaikan orang yang membagi tempat di dalam kapal, sebagian mendapat bagian di atas dan sebagian di bawah. Ketika orang-orang yang di bawah membutuhkan air, mereka harus naik ke atas, tentunya akan meganggu orang yang di atas. oleh karena itu, (yang di bawah) berkata, Kami akan melubangi kapal ini agar tidak menggangu orang-orang yang berada di atas.' Jika yang di atas membiarkan hal itu, niscaya semuanya akan binasa, tetapi jika yang di atas menyadari dan mencegah mereka yang di bawah, maka semua akan selamat." (Diriwayatkan Bukhari).

Melaksanakan perintah maksudnya istiqamah dalam menjalankan agama Allah, lalu melaksanakan kewajiban dan meninggalkan keharaman. Sedangkan orang yang terjerumus di dalamnya maksudnya yang terjerumus dalam had Allah, yaitu orang yang mengerjakan perbuatan haram dan meninggalkan kewajiban. Mereka bagaikan orang yang membagi tempat didalam kapal, sebagian mendapat bagian di atas dan sebagian di bawah. Ketika orang-orang yang di bawah membutuhkan air, mereka harus naik ke atas, tentunya akan mengganggu orang yang di atas. Sehingga (yang dibawah) berkata, "Kami akan melubangi kapal ini agar tidak mengganggu orang-orang yang berada di atas." Begitulah yang mereka inginkan.

Perumpamaan yang dibuat Nabi Shollollahu Alaihi wa Sallm ini memiliki makna dan hikmah yang sangat tinggi. Manusia yang memeluk agama Allah seperti orang yang berada di dalam perahu yang berlayar di atas laut dan diterpa oleh gelombang. Jika jumlah mereka banyak, maka sebagian mereka harus ada yang berada di bawah dan sebagian ada yang di atas sehingga beban perahu seimbang dan mereka tidak berdesak-desakan. Keselamatan perahu itu menjadi tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, jika ada salah seorang penumpang perahu itu yang ingin merusaknya, mereka harus memegang kedua tangannya agar tidak melakukan pengrusakan sehingga mereka semua selamat. Jika itu tidak mereka lakukan, maka mereka semua akan binasa. Begitulah agama Allah. Jika orang-orang rasionalis, ilmuwan, dan agamawan mampu mengeliminir orang-orang bodoh, maka mereka akan selamat. Akan tetapi, jika mereka membiarkan apa yang mereka inginkan, niscaya mereka akan binasa seluruhnya.

"Takutlah kamu kepada bencana yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim di antara kamu secara khusus saja...." (Al-Anfaal: 25)

Dalam perumpamaan ini terdapat dalil bahwa bagi seorang penuntut ilmu perumpamaan itu penting untuk mendekatkan akal mereka dengan gambaran yang indrarwi. Allah Subhanahu waTa'ala berfirman, "Itulah perumpamaan lang kita buat untuk manusia dan tidak memahaminya, kecuali orang-orang yang berilmu" (Al-Ankabuut: 43).

Betapa banyak manusia yang kamu beri penjelasan dengan penjelasan yang banyak dan diulang-ulang, tetapi tidak paham. Akan tetapi jika kamu beri perumpamaan dengan sesuatu yang indrawi, dia langsung mengerti dan paham.

Lihatlah kepada perumpamaan yang dibuat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada seorang lelaki dari Arab badui. Dia bertanya kepada Nabi, "Ya Rasulullah, sesungguhnya istriku melahirkan seorang anak berkulit hitam, padahalsaya putih dan istri saya putih. Darimana datangnya kulit hitam itu kepada kami?" Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, 'Apakah kamu punya onta?" Dia menjawab, "Ya". Beliau bertanya, 'Apa warnanya?" Dia menjawab, "Merah". 'Apakah pada onta itu ada loreng hitam dan putihnya?" Dia menjawab, "Ya". Beliau bertanya, "Dari mana wama itu datang kepada onta itu?" Dia menjawab, "Mungkin dari salah seorang kakek atau neneknya atau pamannya atau nenek moyangnya berwama hitam, lalu keturunan itu masih datang kepadanya. Maka orang Arab badui itu pun sangat puas dengan jawaban tersebut. Jika Nabi pada saat itu menjelaskan dengan teori yang muluk-muluk mungkin orang Arab badui itu tidak paham, tetapi karena Nabi memberinya perumpamaan yang sangat erat dengan kehidupan, maka dia pun segera pergi dalam keadaan puas.

Begitulah yang seharusnya disampaikan kepada para penuntut ilmu, bahkan kepada pengajar. Seharusnya mereka mendekatkan makna-makna itu dengan sesuatu yang logis dan dapat dicema akal manusia dengan membuat permisalan yang indrawi, seperti yang dilakukan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.


Hadist ke 176

Diriwayrkan dai ummu salamah Hindun binti Abu umayyah Hudzaifah Radhilallahu Anha, dari Nabi shallallahu Alaihi wa sallam, beliau bersabda, "sesungguhnya akan diangkat untuk kalian beberapa penguasa" dan kalian akan mengetahui kemungkarannya. Maka siapa saja yang benci, bebaslah ia; dan siapa saja yang mengingkarinya maka selamatlah ia' Akan tetapi, orang yang ridha dan mengikuti, maka tersesatlah ia" Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apakah tidak sebaiknya kita memerangi mereka?" Beliau rnenjawab, "Jangan, selama mereka masih mengerjakan shalat bersamamu. (Diriwaytkan Muslim).

Maksudnya, barangsiapa yang benci di dalam hatinya dan tidak bisa mengingkarinya dengan tangan dan lisannya, maka dia telah terbebas dari dosa dan menjalankan kewajibannya. siapa yang mengingkari sesuai dengan kekuatannya, maka dia telah selamat dari kemaksiatan ini; dan siapa yang ridha kepada perbuatan mereka dan mengikuti mereka, maka dia telah berbuat maksiat.

''Dalam hadits yang disebutkan oleh Penulis An-Nawawi ini diceritakan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengabarkan kepada kita bahwa beliau akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang akan menjadi wali kita, tetapi mereka tidak menegakkan hukum Allah dan tidak istiqimah dalam menjalankan perintah Allah. Maka kamu pun mengetahui tabiat mereka dan kamu mengingkarinya. Mereka adalah para pemimpin yang diangkat berdasarkan baiat, maka siapa saja yang benci bebaslah ia, dan siapa saja yang mengingkarinya, maka selamatlah ia, tetapi orang yang ridha dan mengikuti, maka binasalah dia. Kemudian para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apakah tidak sebaiknya kita memerangi mereka?,, Beliau menjawab, "Jangan, selama mereka masih mengerjakan shalat bersamamu."

Ini menunjukkan bahwa jika kita melihat pemimpin kita ada sesuatu yang kita ingkari, lalu kita membenci dan mengingkarinya; jika mereka mendapat petunjuk, maka kita dan mereka mendapatkan pahala dan jika mereka tidak mendapatkan petunjuk, maka kita mendapatkan pahala dan mereka mendapatkan dosa. Kita tidak boleh memerangi pemimpin-pemimpin yang kita lihat mereka mungkar karena memerangi mereka akan membawa banyak keburukan dan kita akan kehilangan banyak hal; karena jika mereka diperangi atau diserang, maka hal itu tidak akan menambah mereka, kecuali bertambah jahat karena mereka adalah pemimpin yang melihat manusia berada di atas manusia. Jika mereka diserang atau diganggu, maka mereka akan semakin bertambah jahat, kecuali bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan beberapa syarat boleh memberontak. Kemudian beliau bersabda, 'Jangan, selama mereka mendirikan shalat bersamamu. " Ini menunjukkan bahwa jika mereka tidak mendirikan shalat, maka kita boleh memeranginya.

Dalam hadits yang dikutip oleh Penulis An-Nawawi pada pelajaran kita kali ini, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa nanti kita akan dipimpin oleh para pemimpin yang kadang kita setuju dengannya dan kadang kita mengingkarinya karena mereka tidak menegakkan hukum-hukum Allah dan tidak istiqamah dalam menjalankan perintah Allah sehingga kamu mengingkarinya.

Mereka itu adalah para wali yang diangkat oleh para pemimpin melalui baiat, maka barangsiapa yang mengingkari dan membenci perbuatan tercela mereka, maka dia selamat; dan barangsiapa yang percaya dan mengikuti, maka dia telah binasa sebagaimana mereka binasa. Kemudian mereka meminta kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Mengapa kita tidak membunuh mereka?" Dia menjawab, "Tidak selama mereka mendirikan shalat bersamamu." Ini menunjukkan bahwa para pemimpin itu jika kita melihat sesuatu yang kita ingkari pada mereka, maka kita boleh mengingkari dan membenci mereka. Jika mereka mendapatkan petunjuk, maka kita dan mereka mendapatkan pahala, tetapi jika mereka tidak mendapatkan petunjuk, maka kita mendapatkan pahala dan mereka mendapatkan dosa.

Kita tidak boleh mengingkari para pemimpin yang kita lihat berbuat mungkar karena memerangi mereka akan membawa dampak keburukan yang besar dan kita akan kehilangan banyak hal yang baik. Karena jika mereka diserang atau diteror, tidak akan menambah apa-apa, kecuali bertambah jahat. Mereka adalah para pemimpin yang melihat diri mereka lebih dari manusia biasa. Oleh karena itu, jika mereka ditentang atau diperangi, maka kebengisan mereka akan semakin menjadi-jadi, kecuali Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan syarat boleh memerangi mereka, yaitu jika mereka tidak mengerjakan shalat.

Hadits ini menunjukkan bahwa jika mereka tidak mendirikan shalat kita boleh memerangi mereka dan dalam hadits ini juga terdapat dalil bahwa meninggalkan shalat hukumnya kafir. Demikian itu karena tidak boleh kita memerangi pemimpin, kecuali jika kita melihatnya kafir secara nyata dan kita memiliki dalil yang jelas dari Allah. Jika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan izin kepada kita untuk memerangi mereka jika mereka tidak mendirikan shalat berarti bahwa meninggalkan shalat adalah kekafiran yang dikuatkan dengan dalil yang jelas dari sisi Allah.

Yang harus kita lakukan adalah menetapkan nash pada keumumannya bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir. Tidak ada seorang pun yang datang membawa hujah bahwa dia tidak kafir, kecuali hujah yang tidak bermanfaat bagi mereka karena mengandung lima hal:

  1. Tidak ada dalil yang mendasar di dalamnya.
  2. Terikat dengan sifat yang tidak mungkin meninggalkan shalat.
  3. Terikat dengan keadaan yang menghalanginya meninggalkan shalat.
  4. Dalil itu bersifat umum yang dikhususkan dengan nash yang menjelaskan bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir.
  5. Dalil yang digunakan lemah.

Itulah lima hal yang melemahkan pendapat orang yang mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat tidak kafir.


Wallahu a'lam al-muwaffiq.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dosa-dosa Besar ke 30 : MEMAKAN BANGKAI, DARAH, DAN DAGING BABI

  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ Kajian Sunnah Rutin Musholla Baiturrahman Ust. H. Hidayat Husein Allah Ta'ala berfirman, "Ka...