بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ
Kajian Sunnah Musholla Baiturrahman, Syarah Riyadhus Shalihin Bab Amar Ma'ruh dan Nahi Mungkar.
Ust. Syarif Hidyatullah S.Ag
Hadist ke 181 :
Diriwayatkan dari Abu sa'id Al-Khudri Radhilallahu Anhu, dari Nabi shallallahu Alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Jihad yang paling utama adalah berkata adil di hadapan penguasa yang menyeleweng. " (Diriwayatkan Abu Daud dan Tirmidzi, dan At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan").
Penguasa mempunyai dua kelompok pendukung:
A. Kelompok yang buruk melihat apa yang diinginkan penguasa, kemudian mengatakan bahwa keinginannya ifu bagus seraya berkata, "lnilah yang benar, inilah yang baik, sangat bagus sekali dan sebagainya," walaupun kenyataannya sangat buruk. Itu dilakukan karena ingin menjilat penguasa dan ingin mendapatkan keuntungan materi.
B. Adapun kelompok yang baik senantiasa melihat apa yang diridhai Allah dan Rasul-Nya, lalu menunjukkan penguasa kepadanya. Inilah kelompok yang baik. Berkata batil di depan penguasa lalim bertentangan dengan jihad. Kalimat batil di depan penguasa jahat terjadi, pembicara melihat apa yang diinginkan penguasa, lalu dia berbicara dengannya dan menganggapnya sesuatu yang baik. Oleh karena itu, mengatakan kebenaran di depan penguasa lalim merupakan jihad yang paling besar' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Dihadapan penguasa yang menyeleweng" karena mengatakan kebenaran di depan penguasa yang adiltidak membahayakan pengucapnya karena dia akan menerima' Adapun mengatakan kebenaran di depan penguasa yang lalim, dia bisa balas dendam kepada orang yang mengatakannya dan mengazabnya.
- Berkata benar di depan penguasa yang adil adalah mudah.
Berkata batil di depan penguasa yang adil. Ini sangat berbahaya karena perkataanmu karena perkataanmu ifu bisa memfitnah penguasa yang adil itu, padahal dia tidak seperti itu.
- Berkata benar di depan penguasa yang lalim adalah jihad yang paling paling utama.
Berkata batil di depan penguasa yang jahat merupakan perkataan yang paling jelek. Keempat yang paling jelek.
Keempat macam perkataan ini yang paling utama adalah berkata benar di depan penguasa lalim. Kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang berkata benar, baik secara lahir maupun batin kepada dirinya dan kepada orang lain.
Hadist ke 182 :
Diriwaytkan dai Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhilallahu Anhu ia berkata, "Wahai manusia, hendaknya kalian membaca ayat ini, 'Yaa ayyulal ladziina aamanuu 'alaikum anfusakum laa yadhurrukum man dhalla idzahta-daitum' (Hai orang-orang lang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk).... (Al-Maidah: 105) Dan sesungguhnya saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'sesungguhnya apabila orang-orang melihat orang yang bertindak aniaya, kemudian mereka tidak mencegahny maka kemungkinan besar Allah akan meratakan siksaan kepada mereka disebabkan perbuatan tersebut'." (Diriwaytkan Abu Daud, Tirmidzi, dan An-Nasai dengan sanad-sanad yang shahih).
Menurut zahir ayat ini bahwa jika manusia mendapat petunjuk, maka orang yang sesat tidak membahayakannya karena dia telah istiqamah dengan dirinya sendiri dan jika dia telah istiqamah dengan dirinya sendiri, maka pahalanya ada pada Allah. Tetapi ada sebagian manusia yang menafsirkan dan memahaminya dengan makna yang rusak. Dia mengira bahwa makna yang rusak itulah yang dimaksud oleh ayat tersebut, padahal tidak demi kian. Sesungguhnya Allah subhanahu waTa'ala memberikan syarat bahwa orang yang sesat tidak akan membahayakan kita jika kita mendapatkan petunjuk. oleh karena itu, Dia berfirman, "Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk."
Di antara tanda bahwa kita mendapatkan pefunjuk adalah menyuruh kepada yang ma'ruf dan melarang dari yang mungkar. Jika ini termasuk tanda mendapatkan petunjuk, maka kita harus menyelamatkan diri dari bahaya, yaitu dengan beramar ma'ruf dan bernahi mungkar. oleh karena itu, Abu Bakar Radhiyallahu Anhu berkata, "saya mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'sesungguh nya apabila orang-orang melihat orang yang bertindak aniaya, kemudian mereka tidak mencegahnya, maka kemungkinan besar Allah akan meratakan siksaan kepada mereka disebabkan perbuatan tersebut'." Artinya, orang yang sesat itu dapat membahayakan jika mereka melihat kesesatan tetapi tidak menyuruh kepada yang ma'mf dan tidak melarang dari yang mungkar, maka bisa-bisa mereka terkena azab secara umum, baik pelaku maupun yang lalai' Pelaku maksudnya pelaku kemungkaran dan orang yang lalai adalah orang yang tidak mencegah dari yang mungkar. Dalam hal ini terdapat dalil bahwa manusia wajib memperhatikan pemahaman terhadap Kitabullah sehingga tidak memahaminya dengan pemahaman yang tidak sesuai dengan yang diinginkan Allah. Kadang-kadang manusia mengira makna yang bertentangan dengan apa yang dikehendaki oleh Allah dalam Kitabnya sehingga mereka sesat dalam menafsirkan Al-Qur'an. Maka dari itu, dijelaskan dalam hadits adanya ancaman kepada orang yang berkata tentang Al-Qur'an dengan pendapatnya sendiri atau menafsirkannya dengan hawa nafsunya tidak sesuai dengan kandungan bahasa Arab dan syariat Islam. Jika manusia menafsirkan Al-Qur'an dengan hawa nafsu dan pendapatnya sendiri, hendaklah dia menempatkan tempat duduknya di neraka. Adapun orang yang menafsirkan Al-Kitab dengan kandungan yang ada dalam bahasa Arab dan dia termasuk orang yang memahami tuhuru Arab, maka dia tidak berdosa karena Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab sehingga dia menafsirkannya sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh bahasa itu. Begitu juga jika kata-kata itu telah dipindah dari makna bahasa kepada makna syariat dan menafsirkannya dengan makna syar'inya, maka tidak berdosa baginya. Yang jelas bahwa manusia wajib memahami apa yang diinginkan Allah dalam Kitab-Nya, begitu juga memahami keinginan Nabi dalam sunahnya, sehingga tidak menafsirkan keduanya kecuali sesuai dengan keinginan Allah dan Rasul-Nya.
Wallahu a'lam al-muwaffiq.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar