Selasa, 23 September 2025

Siapa Yang Membantu Seseorang Dalam Ketaatan, Maka Dia Mendapatkan Pahala

  بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ


Kajian rutin Musholla Baiturrahman 24 September 2025, Syarah Riyadhus Shalihin Bab Tolong Menolong Dalam Kebaikan dan Ketakwaan.

Ust. Syarif Hidyatullah S.Ag


Hadist ke 169 : 

Diriwayatkan dari lbnu Abbas Radhilallahu Anhuma, ia berkata, "Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertemu dengan sebuah rombongan di Rauha', kemudian beliau bertanya, 'siapakah kalian ini?' Mereka menjawab, 'Kami umat Islam'. Mereka balik bertanya, ,Siapakah engkau?' Beliau menjawab, 'Rasulullah,. Tiba-tiba ada seorang wanita yang mengangkat anaknya sambil bertanya, ,Apakah sah hajinya anak ini?' Beliau menjawab, 'Ya" dan pahalanya untukmu'." (Diriwaytkan Muslim).

Dalam hadits ini terdapat beberapa pelajaran:

  1. Maksud yang diinginkan penulis An-Nawawi menyitir hadits ini, yaitu siapa yang membantu seseorang dalam ketaatan, maka dia mendapatkan pahala; karena perempuan itu akan senantiasa menjaga anaknya selama ihram, thawaf, sai, wukuf, dan sebagainya sehingga beliau bersabda, "Hajinya sah dan kamu mendapatkan pahala." Hal ini sama dengan penjelasan sebelumnya bahwa siapa yang menyiapkan persiapkan untuk seorang pejuang dan mau menanggung keluarganya selama ditinggal perang, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berjuang tersebut.
  2. Orang harus bertanya mengenai orang yang tidak diketahuinya jika itu diperlukan; karena Rasuluttah Shallallahu Alaihi wasallam bertanya, "Siapa mereka?" Beliau takut bahwa mereka adalah musuh sehingga mereka berkhianat atau berpaling. Adapun jika tidak ada kepentingan apa-apa, maka tidak perlu kamu bertanya tentang orang itu. Lalu perlu bertanya, "siapa kamu?" Hal itu kadang masuk dalam masalah yang tidak penting bagimu. Dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak penting baginya. Akan tetapi, jika diperlukan, maka tanyalah sehingga jelas identitas orang itu. 
  3. Terdapat dalil bahwa menyifatkan diri dengan sifat-sifat yang baik jika tujuannya bukan untuk kesombongan melainkan untuk perkenalan, hukumnya tidak apa-apa. Karena para sahabat itu ketika ditanya,"Siapa kamu?" Mereka menjawab, "Orang-orang lslam." Kata Islam di sini tidak diragukan lagi adalah pujian. Jika manusia mengabarkan tentang dirinya seraya berkata, "Saya Muslim" hanya untuk pemberitahuan, bukan untuk kesombongan, hukumnya tidak apa-apa. Begitu juga jika mengatakannya dalam rangka untuk berbagi nikmat. Jika dia berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku termasuk orang-orang Islam dan sebagainya," hukumnya tidak apa-apa. Bahkan, dianggap sebagai perbuatan terpuji jika tujuannya tidak sampai kepada hal yang dilarang.
  4. Jika seseorang menyebutkan identitasnya tanpa menyombongkan diri, maka tidak dianggap sebagai memuji diri dan menyucikan diri sendiri yang dilarang Allah dalam firman-Nya, "...Maka janganlah engkau menyucikan diimu sendiri karena Dia lebih mengetahui siapa yng bertakwa." (An-Najm: 32).
  5. Di dalamnya juga terdapat dalil bahwa manusia harus memanfaatkan keberadaan orang alim; karena kaum itu ketika diberi tahu Rasulullah bahwa dirinya adalah Rasulullah, mereka langsung bertanya kepadanya. Oleh karena itu, manusia harus memanfaatkan keberadaan seorang alim untuk bertanya kepadanya tentang masalah yang sulit baginya.
  6. Seorang anak yang naik haji, maka di samping dia sendiri mendapatkan pahala, begitu juga untuk kedua orang tuanya, sedangkan hajinya tetap milik anak itu, bukan milik wali. Ada pendapat yang telah beredar luas di kalangan manusia bahwa jika seorang bayi melaksanakan ibadah haji, maka hajinya menjadi milik kedua orang tuanya. Pendapat seperti ini tidak ada dasarnya, tetapi yang benar bahwa haji tetap milik anak itu karena ketika Nabi Shollollahu Alaihi wa Sallam ditanya wanita itu, 'Apakah hajinya sah?" Beliau menjawab, "Ya dan kamu mendapatkan pahala." Jadi, haji tetap milik anak itu. Ketahuilah bahwa anak walaupun belum mencapai usaha balig, tetap ditulis pahalanya, tetapi tidak ditulis dosanya.
  7. Dalam hadits ini juga terdapat dalil bahwa anak kecil walapun belum bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk, hajinya tetap sah, tetapi bagaimana niatnya bisa sah padahal dia belum mumayyiz? Pada ulama menjawab, "Walinya yang berniat untuknya dalam hatinya bahwa dia memasukkan anak itu ke dalam ihram dan walinya melaksanakan segala sesuatu yang anak itu tidak kuasa melaksanakannya sendiri.


Hadist Ke 170 : 

Diriwaytkan dari Abu Musa Al-Asy'ai Radhilallahu Anhu, dia berkata, "Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, 'Seorang bendahara Muslim yang amanah dan dapat dipercaya adalah yang melaluanakan apa yang diperintahkan, lalu memberikan secara sempurna, lapang, dan senang hati, kepada orang yang diperintahkan untuk diberi, maka dia termasuk salah seorang yang mendapat pahala sedekah tersebut'." (Diriwaytkan Bukhari dan Muslim).

Penulis An-Nawawi menukil dari Abu Musa Al-Asy'ari Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "seorang bendahara Muslim yang amanah dan dapat dipercaya adalah yang melaksanakan apa yang diperintahkan, lalu memberikan secara sempurna, lapang, dan senang hati, kepada orang yang diperintahkan untuk diberi, maka dia termasuk salah seorang yang mendapat pahala sedekah tersebut." (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim).
Kata "al-khazin" adalah mubtada', sedangkan khabarnya adalah "ahad al-mutashaddiqin." Maksudnya bahwa bendahara yang memiliki sifat-sifat seperti ini : Muslim, dapat dipercaya, melaksanakan apa yang diperintahkan, dan berjiwa tenang.

  1. Orang Islam berarti tidak kafir. Seorang bendahara kafir, walaupun dapat dipercaya dan walaupun dapat dipercaya dan melaksanakan perintah tidak mendapatkan pahala karena orang kafir tidak mendapatkan pahala di akhirat atas kebaikan yang dikerjakannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,"Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan." (Al-Furqaan: 23). Kemudian Allah berfirman, "...Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya " (Al-Baqarah 217). Adapun jika dia berbuat baik, kemudian masuk Islam, berarti kebaikan yang telah diperbuatnya pada masa lalu terselamatkan dan diberi pahala.
  2. Menjalankan apa yang diamanatkan kepadanya sehingga dia menjaga harta itu, tidak merusaknya, tidak mengkorupsinya, dan tidak berkeinginan mengambilnya.
  3. Melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya. Artinya, mengerjakannya karena di antara manusia ada yang amanah, tetapi malas. Namun yang dimakud hadits ini adalah orang yang dapat dipercaya dan mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya sehingga terkumpullah dalam dirinya kekuatan dengan amanah.
  4. Berjiwa tenang. Jika dia memberi seseorang yang diperintahkan untuk diberi, hatinya tidak nggrundel, atau tidak iri kepada orang yang diberi atau tidak menampakkan bahwa dia lebih baik daripada orang yang diberi, tetapi dia memberinya dengan senang hati. Jika ini dilakukan maka dia seperti seorang pemberi sedekah kepadanya, walaupun sebenarnya dia tidak mengeluarkan uangnya sendiri walau hanya satu sen. 
Misalnya, jika seseorang mempunyai harta dan dia mempunyai seorang penjaga kotak hartanya-yaitu seorang Muslim, dapat dipercaya, melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya, dan memberikannya dengan senang hatikepada pemiliknya, maka jika pemilik kotak itu berkata kepadanya, "wahai Fulan, berikan ini kepada orang fakir sepuluh ribu riyal," lalu dia memberinya seperti yang disebutkan Nabi shallallahu Alaihi wa sallam, maka dia mendapatkan pahala seperti orang yang bersedekah sepuluh ribu riyal itu tanpa mengurangi pahala orang yang bersedekah sedikit pun. Ini merupakan karunia Allah. 

Dalam hadits ini terdapat dalil tentang keutamaan amanah dan melaksanakan apa yang diwakilkan kepadanya serta tidak meremehkannya. Juga terdapat dalil tentang tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan bahwa bagi penolong mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakan. Ini juga merupakan karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Wallahu a'lam al-muwaffiq.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Orang-Orang Yang Bangkrut Sesungguhnya

          بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ Kajian Sunnah Musholla Baiturrahman, Syarah Riyadhus Shalihin Bab Larangan Berbuat Zalim & Ke...