Senin, 29 September 2025

NASIHAT

بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ


Kajian rutin Musholla Baiturrahman, Syarah Riyadhus Shalihin Bab Nasihat.

Ust. Syarif Hidyatullah S.Ag


  • Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : "Sesunguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara..." (Al- Hujurat: 10).
  • Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : tentang Nabi Nuh Alaihissalam, "...Dan aku membei nasihat kepa.d.amu...." (Al-A'raaf: 62).
  • Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang Nabi Hud Alaihissalam, "...Dan aku hanyalah pemberi nasihat yang tepercaya bagimu.' (Al-A'raaf: 68).


Ayat Pertama : "Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara." Khithab ayat ini ditujukan kepada orang-orang Mukmin, atau jika mereka benar-benar merealisasikan ukhuwah dan berhias diri dengannya, pasti persaudaraan itu akan menghasilkan nasihat.

Oleh karena itu, setiap orang Mukmin harus bersaudara seperti yang difirmankan Allah, "Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara." Mereka adalah saudara dalam agama dan persaudaraan dalam agama lebih kuat daripada persaudaraan dalam nasab, bahkan persaudaraan dalam nasab tanpa agama tidak ada apa-apanya. 

Oleh karena itu, Allah berfirman kepada Nuh ketika dia berkata, "Sesungguhnya anakku termasuk keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu adalah benar." Allah menjawab, "Sesungguhnya dia bukan keluargamu karena perbuatannya adalah perbuatan yang tidak baik.... " (Huud : 45).

Sedangkan orang-orang Mukmin, walaupun tempat mereka berjauhan dan bahasa mereka berbeda, tetapi mereka bersaudara di mana pun berada. Saudara harus menasihati sesama saudara, menunjukkan kebaikan kepadanya, menjelaskan kepadanya, dan sekaligus mengajaknya.

Ayat Kedua : adalah perkataan Nuh. Dia adalah rasul pertama yang berkata kepada kaumnya tatkala dia menyeru kaumnya kepada Allah, "Dan aku memberi nasihat kepadamu dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. " Artinya, saya tidak curang kepada kalian, tidak menipu, dan saya tidak ingkar janji, tetapi saya adalah penasihat.

Ayat Ketiga : firman Allah, "...Dan aku hanyalah pemberi nasihat yang tepercaya bagimu." (Al-Araaf: 68).

Yang jelas bahwa setiap orang harus menjadi penasihat bagi saudara-saudaranya, menunjukkan kebaikan kepadanya, dan mengajak mereka menjalankannya sehingga dengan demikian terealisasilah persaudaraan dalam Islam.


Hadist Ke 171 : 

Dari Abu Ruqayah Tamim bin Aus Ad-Daari Radhilallahu Anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ,,Agama itu adalah nasihat." Kami bertanya, "Bagi siapa?" Beliau bersabda, ,,Bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin-pemimpin umat Islam dan umat Islam pada umumnya." (Diriwayatkan Muslim).


Ada lima macam objek nasihat :

Pertama: 

Nasihat bagi Allah adalah dengan ikhlas hanya untuk Allah, menyembah-Nya dengan rasa cinta dan pengagungan. Seorang hamba menyembah Allah karena cinta sehingga dia menjalankan perintah-perintah-Nya untuk menggapai cinta kasih-Nya dan mengagungkan-Nya, lalu menghindari apa yang diharamkan-Nya karena takut kepada-Nya.

Di antara nasihat bagi Allah adalah selalu berzikir kepada-Nya dengan hati, lisan, dan anggota badan. Sedangkan hati tidak ada batas untuk bezikir. Manusia bisa mengingat Allah dengan hatinya setiap keadaan, kapan pun berkehendak dan apa pun yang didengar; karena dalam segala sesuatu terdapat tanda-tanda yang menunjukkan atas keesaan, keagungan, dan kebesaran-Nya.

Di antara nasihat bagi Allah adalah cemburu kepada-Nya. Allah cemburu jika laranganJarangan-Nya dilanggar, seperti halnya keadaan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sesungguhnya beliau tidak pernah membalas dendam untuk dirinya sendiri sama sekali. Walaupun manusia berkata jelek kepadanya, tetapi beliau tidak pernah membalas dendam untuk dirinya sendiri. Akan tetapi, jika larangan-larangan Allah dilanggar, maka beliau menjadi orang yang paling dendam kepada orang yang melanggamya.

Di antara nasihat bagi Allah lainnya adalah membela agama Allah yang disyariatkan kepada hamba-hamba-Nya sehingga dia menepis tipu daya para penipu, menepis orang-orang ateis yang menentang agama  karena agama dianggap sebagai tali yang mengikat manusia dari kebebasan mereka. Sebenamya agama adalah tali pembebasan; karena manusia terikat untuk Allah dan dengan Allah.

Di antara nasihat bagi Allah adalah menyebarkan agama Allah kepada hamba-hamba Allah; karena inilah maqam setiap rasul. Merekalah orang-orang yang mengajak manusia kepada Allah seperti yang difirmankan Allah tentang mereka.

Kedua :

"Bagi Kitab-Nya." Yaitu bahwa agama itu adalah nasihat bagi Kitab Allah. Hal ini mencakup Kitab Allah yang diturunkan kepada Muhammad dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Nasihat bagi kitab-kitab tersebut maksudnya dengan mengimani berita-beritanya atau apa yang diberitakan olehnya harus kita percayai.

Adapun mengenai Al-Qur'an sudah jelas karena Al-Qur'an dinukil secara mutawatir pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam hingga akhir zaman, dibaca oleh orang kecil dan besar. Sedangkan kitab-kitab sebelumnya, telah diubah dan diganti. Tetapi apa yang benar darinya kita harus mempercayai beritanya dan meyakini kebenaran hukumnya. Tetapi kita tidak tunduk kepada kitab-kitab sebelumnya, kecuali bila ada dalil dari syariat kita.

Di antara nasihat bagi Kitabullah adalah mempertahankannya dari orang-orang yang ingin mengubahnya, baik secara lafal maupun makna atau orang yang menganggap bahwa di dalamnya ada kekurangan atau tambahan.

Di antara nasihat bagi Kitabullah adalah menyebarkan maknanya kepada kaum Muslimin, yaitu makna yang benar yang sesuai dengan zahimya, yang tidak ada di dalamnya perubahan dan penggantian.

Di antara nasihat bagi Kitabullah adalah percaya bahwa Allah benar-benar berbicara dengan Kitab ini secara hakikat dan Al-Qur'an ini adalah kalam-Nya, baik huruf maupun maknanya, bukan perkataan huruf tanpa makna atau makna tanpa huruf, melainkan bahwa Allah berbicara secara lafal dan makna.

Bukan termasuk nasihat bagi Kitabullah adalah dengan memperbanyak pembicaraan tentang Al-Qur'an; apakah itu benar-benar Kalamullah atau bukan, atau mengatakan bahwa itu makhluk atau bukan makhluk, dan sebagainya tetapi yang termasuk nasihat bagi Kitabullah adalah beriman bahwa Al-Qur'an adalah Kalamullah, baik secara lafal maupun makna.

Di antara nasihat bagi Kitabullah adalah menghormati Al-Qur'an. Di antaranya adalah tidak menyentuh Al-Qur'an, kecuali dalam keadaan suci dari hadats besar dan kecil karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Tidak menyentuhkan, kecuali orang yang bersih.

Di antara nasihat bagi Kitabullah adalah tidak meletakkannya di tempat yang hina karena meletakkannya di tempat itu berarti pula menghinanya, seperti, tempat-tempat kotor dan sebagainya.

Ketiga :

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Bagi Rasul-Nya." Sedangkan nasihat bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa sallam mencakup beberapa hal : 
    1. Beriman sepenuhnya kepada risalahnya dan sesungguhnya Allah mengutusnya kepada semua makhluk, baik orang Arab maupun non Arab, bahkan manusia dan jin.
    2. Mempercayai berita yang beliau sampaikan karena beliau adalah jujur dan dapat dipercaya. Jujur dalam segala yang diberitakannya dari wahyu karena itu beliau tidak bisa didustakan dan tidak berdusta.
    3. Benar-benar mengikutinya sehingga tidak menambah dan tidak mengurangi syariatnya, kamu jadikan beliau sebagai imammu dalam segala ibadah. sesungguhnya Rasulullah shailallahu Alaihi wa sallam adalah imam umat ini dan diikuti. Tidak halal bagi seorang pun mengikuti selain beliau, kecuali jika dia menjadi perantara Rasulullah, dia memiliki ilmu sunah yang tidak kamu miliki.
    4. Mempertahankan syariat dan menjaganya, yaitu mempertahankannya agar tidak seorang pun mengurangi; dan menjaganya agar tidak seorang pun menambahnya dengan sesuatu yang bukan merupakan bagian darinya. Karena itu juga kamu harus memerangi ahli bid'ah, baik yang bersifat perkataan, perbuatan, maupun keyakinan karena bid'ah pada hakikatnya satu ladang dan semuanya sesat, seperti yang disabdakan Rasulullah shallallahu Alaihi wa sallam, "setiap bid'ah adalah sesat. " Tidak dikecualikan dalam hal ini bid'ah perkataan, perbuatan, atau keyakinan.
    5. Di antara nasihat bagi Nabi adalah menghormati sahabat-sahabat beliau, mengagungkan mereka, dan mencintai mereka. Tidak diragukan lagi bahwa sahabat adalah orang-orang khusus di antara manusia pada umumnya. Karena itu masa sahabat disebut sebaikbaik masa karena mereka adalah sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu Alaihi wa sallam.

Keempat :

Nasihat bagi para pemimpin, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Dan bagi para pemimpin kaum Muslimin." Yang dimaksud dengan pemimpin adalah orang yang diikuti dan dijalankan perintahnya. Pemimpin dibagi menjadi dua : pemimpin agama dan pemimpin dalam kekuasaan (pemerintahan).

Pemimpin agama ada di tangan para ulama sehingga para ulamalah yang disebut dengan pemimpin agama, yang menggiring manusia menuju Kitabullah dan memberikan petunjuk kepada mereka serta menunjukkan mereka kepada syariat Allah.

Mereka tidak memohon kepada Allah agar dijadikan sebagai pemimpin pemerintah, melainkan memohon agar menjadi pemimpin agama; karena hamba-hamba Allah itu tidak mau menjadi pemimpin pemerintah dan tidak pula meminta menjadi pejabat pemerintah.

Di antara nasihat bagi para pemimpin umat Islam atau pemimpin agama dan ilmu adalah dengan segera menggali dan menimba ilmu dari mereka karena mereka adalah perantara antara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan umatnya, lalu dia giat menuntut ilmu dari mereka dengan segala perantaranya.

Di antara nasihat bagi pemimpin umat adalah tidak mencari-cari kesalahan, kekurangan, dan aib mereka, karena mereka bukanlah orang-orang yang ma'shum. Kadang mereka terpeleset dan kadang salah. setiap anak Adam adalah salah dan sebaik-baik orang yang salah adalah bertaubat. Apalagi orang yang mencari ilmu, dialah orang yang paling banyak mengalami kesalahan seperti yang diajarkan dan diingatkan oleh gurunya. Betapa banyak manusia yang mengambil manfaat dari murid-muridnya, mengingatkannya dalam beberapa aspek karena kesalahan ilmu atau kesalahan praktek serta kesalahan-kesalahan lainnya karena manusia adalah makhluk yang tidak luput dari kesalahan.

Di antara nasihat bagi para pemimpin umat Islam dari kalangan ulama adalah menutupi kesalahan dan aib mereka. Tutuplah aurat dan kesalahan mereka semampumu dan jangan diam. Tetapi peringatkan orang alim itu, carilah jalan keluarnya dan tanyakan kepadanya, mungkin telah dinukil darinya sesuatu yang tidak benar. Karena telah disampaikan kepada kami banyak hal yang tidak benar. Yang jelas bahwa di antara nasihat bagi para pemimpin umat Islam dalam ilmu dan agama adalah tidak mencari-cari kesalahan mereka, tetapi carilah alasan mereka, dengan cara berhubungan langsung dengan mereka. Jika ingin membuktikan apakah sesuatu yang didengar dan dikiranya itu salah, maka dengan menghubunginya langsung mungkin dia akan menjelaskan masalah yang sebenamya atau mungkin dia akan menjelaskan tentang sesuatu yang tidak diketahuinya atau tidak benar dalam prasangkanya. Mungkin ada satu informasi yang tidak kamu ketahui sehingga kamu menjadi tahu dan bersyukur atasnya.

Nasihat bagi mereka adalah menyembunyikan keburukan mereka, tidak menyebarluaskannya kepada manusia, dan berusaha untuk menasihati mereka semampu kita dengan cara langsung jika bisa. Jika tidak bisa secara langsung, bisa juga dengan tulisan atau lewat orang dekatnya jika tidak bisa melalui tulisan. Karena kadang-kadang tulisan tidak bisa sampai kepada mereka, maka bisa melalui penasihatnya dan mengingatkan melalui orang tersebut. Ini juga termasuk memberikan nasihat kepadanya.

Adapun menyebarluaskan keburukan mereka bukan berarti hanya memusuhi mereka secara pribadi saja, tetapi telah memusuhi mereka secara pribadi dan umat Islam seluruhnya karena dengan begitu, dalam hati umat lslam akan munculkebencian kepada pemimpin dan akhirnya menentang pemimpin.

Kelima :

Nasihat bagi manusia secara umum, di antara nasihat bagi kaum Muslimin secara umum adalah mencintai mereka seperti kamu mencintai dirimu sendiri sehingga kamu membimbing mereka kepada kebenaran, memberikan petunjuk kebenaran kepada mereka, menunjukkan mereka kepada kebenaran jika mereka sesat, mengingatkan mereka jika mereka lalai dan menjadikan mereka sebagai saudara.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Seorang Muslim adalah saudara Muslim yang lain." Beliau juga bersabda, "Perumpamaan orang Mukmin satu dengan Mukmin yang lain seperti bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lain."

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, bersabda, " Perumpamaan orang Mukmin dalam kecintaan dan kasih sayang mereka sperti satu jasad. Jika salah satu anggota badannya sakit, maka sakit pula seluruh jasadnya dengan panas-dingin dan tidak bisa tidur."

Jika kamu merasakan sakit pada salah satu ujung anggota badanmu, maka kamu rasakan sakitnya menyebar ke seluruh tubuh. Begitu juga bagi kaum Muslimin, hendaklah jika ada salah seorang kaum Muslim menderita sakit, maka seakan-akan kamu juga merasakan penderitaannya.

Hendaklah diketahui bahwa nasihat adalah dengan cara berbicara langsung antara kamu dengan orang yang kamu nasihati karena jika kamu menasihatinya secara rahasia, hanya antara kamu dan dia saja, akan berpengaruh dalam hatinya dan dia tahu bahwa kamu adalah penasihat.

Wallahu a'lam al-muwaffiq.

Jumat, 26 September 2025

Dosa-Dosa Besar ke 6 : DURHAKA KEPADA KEDUA ORANG TUA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


Kajian Sunnah Rutin Musholla Baiturrahman

Ust. Hidayat Husein


Allah Ta'ala berfirman




"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. lika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "Ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang." (QS. Al-Israa: 23--24)




"Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orangtuanya." (QS. Al-Ankabuut: 8)

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,




" Keridhaan Allah ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan orang tua." (hadits shahih)




"Orang tua adalah pintu surga yang paling dekat. Jika engkau berkehendak maka peliharalah (mereka) dan jika engkau berkehendak maka sia-siakanlah (mereka)" (dishahihkan oleh Imam At-Tirmidzi).

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,






Surga itu di bawah telapak kaki ibu.


Isa bin Thalhah bin Ubaidillah meriwayatkan dari Amr bin Murrah Al-|uhani Radhiyallahu Anhu bahwa ada seorang laki-laki yang berkata, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku telah mengerjakan shalat lima waktu, melaksanakan puasa Ramadhan, membayar zakat, dan menunaikan haji, apakah yang akan aku dapat?" Beliau menjawab, "Barang siapa yang telah melaksanakan semuanya, maka ia akan bersama para nabi, orang-orang yang jujur dan para syuhada, kecuali ia durhaka kepada kedua orang tuanya.

Dari Wahb bin Munabbih ia berkata "Sesungguhnya Allah berfirman, "Hai Musa, hormatilah kedua orang tuamu. Karena sesungguhnya barang siapa yang mengormati kedua orang tuanya, maka Aku akan memanjangkan umurnya dan Aku akan memberikan kepadanya seorang anak yang akan berbakti kepadanya. Dan barang siapa yang durhaka kepada kedua orang tuanya, maka Aku akan memendekkan umurnya dan Aku akan memberikan kepadanya seorang anak yang akan mendurhakainya."

Ka'ab berkata "Demi Dzat yangjiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya Allah akan mempercepat kematian seorang hamba apabila ia mendurhakai kedua orang tuanya agar ia segera menerima azab-Nya. Sesungguhnya Allah akan memperpanjang umur seorang hamba apabila ia berbuat baik kepada kedua orang tuanya agar bakti dan kebaikannya bertambah."

Abu Bakar bin Abu Maryam berkata, "Saya pernah membaca kitab Taurat, 'Barangsiapa yang memukul bapaknya hendaklah dibunuh."' Wahb berkata bahwa di dalam kitab Taurat tercanfum, "Barangsiapa yang memukul orang tuanya, maka hukumannya adalah rajam."


Syaikh Utsaimin Rahimahullah berkata : Durhaka (kepada kedua orang tua) termasuk di antara jajaran dosa-dosa besar yang paling besar karena ancamannya telah dijelaskan di dalam AI-Qur'an maupun As-Sunnah.

Allah Ta'ala berfirman,






Dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. lika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah lcepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, "Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana merekn berdua telah mendidik aku pada waktu kecil."
(QS.
Al-Israa':23-24)

Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Allah Ta'ala berfirman 'Apabila engkau menemukan salah satu atau keduanya telah mencapai usia senja di dalam pemeliharaanmu, bisa salah satunya, seperti ibu atau bapak (yang telah tua) atau keduanya sekaligus. Maka hendaknya engkau bersabar mengurus keduanya.

Karena apabila seseorang telah memasuki usia tua, terkadang ia akan mengalami kepikunan danbisa menyusahkan
semua orang. Maka Allah berfirman dalam hal ini, "Maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah'" Maksudnya janganlah engkau mengatakan, 'Aku telah bosan mengurus kalian berdua!" "Dan janganlah engkau membentakkeduanya." Maksudnya ketika bertutur kata, "Dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." Yaitu tutur kata yang baik dan bagus yang bisa membahagiakan keduanya dan bisa menghilangkan duka dan kesedihannya. "Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuhkasih sayang. " Yaitu merendahkan diri kepada keduanya bagaimana pun tingginya kedudukan yang telah engkau capai sebagimana tingginya burung (yang terbang di udara).

Dan
tunduklah serta rendahkanlah dirimu di hadapan keduanya sebagai ungkapan kasih sayangmu kepada mereka, "Dan ucapkanlah "Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil." Hendaknya engkau mengasihi keduanya dan berdoalah kepada Allah agar Dia mengasihi mereka berdua.

Inilah yang diperintahkan Allah berkenaan dengan kedua orang tua pada saat keduanya mencapai usia senja. Adapun ketika keduanya masihberusia muda, maka pada umuninya orang tua tidak membufuhkan (bantuan) anaknya dan tidak pemah merepotkannya.

Kemudian penulis (Imam An-Nawawi) menyebutkan hadits dari Abu Bakar Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Maukah aku kabarkan kepada kalian dengan dosa-dosa besar yang paling besar." Maka kami pun menjawab, "Mau, wahai Rasulullah!" 
Maka beliau bersabda, "Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua."

Inilah salah satu di antara dosa-dosa besar yang paling besar. Menyekutukan Allah merupakan dosa besar terhadap hak Allah, sedangkan durhaka kepada kedua orang tua merupakan dosa besar terhadap hak orang yang paling berhak di antara manusia dalam hal perwalian dan pemeliharaan, yaitu kedua orang tua.


Wallahu a'lam al-muwaffiq.

Kitab Al-Kabair : Imam Adz-Dzahabi - Disyarahkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Selasa, 23 September 2025

Siapa Yang Membantu Seseorang Dalam Ketaatan, Maka Dia Mendapatkan Pahala

  بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ


Kajian rutin Musholla Baiturrahman 24 September 2025, Syarah Riyadhus Shalihin Bab Tolong Menolong Dalam Kebaikan dan Ketakwaan.

Ust. Syarif Hidyatullah S.Ag


Hadist ke 169 : 

Diriwayatkan dari lbnu Abbas Radhilallahu Anhuma, ia berkata, "Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertemu dengan sebuah rombongan di Rauha', kemudian beliau bertanya, 'siapakah kalian ini?' Mereka menjawab, 'Kami umat Islam'. Mereka balik bertanya, ,Siapakah engkau?' Beliau menjawab, 'Rasulullah,. Tiba-tiba ada seorang wanita yang mengangkat anaknya sambil bertanya, ,Apakah sah hajinya anak ini?' Beliau menjawab, 'Ya" dan pahalanya untukmu'." (Diriwaytkan Muslim).

Dalam hadits ini terdapat beberapa pelajaran:

  1. Maksud yang diinginkan penulis An-Nawawi menyitir hadits ini, yaitu siapa yang membantu seseorang dalam ketaatan, maka dia mendapatkan pahala; karena perempuan itu akan senantiasa menjaga anaknya selama ihram, thawaf, sai, wukuf, dan sebagainya sehingga beliau bersabda, "Hajinya sah dan kamu mendapatkan pahala." Hal ini sama dengan penjelasan sebelumnya bahwa siapa yang menyiapkan persiapkan untuk seorang pejuang dan mau menanggung keluarganya selama ditinggal perang, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berjuang tersebut.
  2. Orang harus bertanya mengenai orang yang tidak diketahuinya jika itu diperlukan; karena Rasuluttah Shallallahu Alaihi wasallam bertanya, "Siapa mereka?" Beliau takut bahwa mereka adalah musuh sehingga mereka berkhianat atau berpaling. Adapun jika tidak ada kepentingan apa-apa, maka tidak perlu kamu bertanya tentang orang itu. Lalu perlu bertanya, "siapa kamu?" Hal itu kadang masuk dalam masalah yang tidak penting bagimu. Dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak penting baginya. Akan tetapi, jika diperlukan, maka tanyalah sehingga jelas identitas orang itu. 
  3. Terdapat dalil bahwa menyifatkan diri dengan sifat-sifat yang baik jika tujuannya bukan untuk kesombongan melainkan untuk perkenalan, hukumnya tidak apa-apa. Karena para sahabat itu ketika ditanya,"Siapa kamu?" Mereka menjawab, "Orang-orang lslam." Kata Islam di sini tidak diragukan lagi adalah pujian. Jika manusia mengabarkan tentang dirinya seraya berkata, "Saya Muslim" hanya untuk pemberitahuan, bukan untuk kesombongan, hukumnya tidak apa-apa. Begitu juga jika mengatakannya dalam rangka untuk berbagi nikmat. Jika dia berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku termasuk orang-orang Islam dan sebagainya," hukumnya tidak apa-apa. Bahkan, dianggap sebagai perbuatan terpuji jika tujuannya tidak sampai kepada hal yang dilarang.
  4. Jika seseorang menyebutkan identitasnya tanpa menyombongkan diri, maka tidak dianggap sebagai memuji diri dan menyucikan diri sendiri yang dilarang Allah dalam firman-Nya, "...Maka janganlah engkau menyucikan diimu sendiri karena Dia lebih mengetahui siapa yng bertakwa." (An-Najm: 32).
  5. Di dalamnya juga terdapat dalil bahwa manusia harus memanfaatkan keberadaan orang alim; karena kaum itu ketika diberi tahu Rasulullah bahwa dirinya adalah Rasulullah, mereka langsung bertanya kepadanya. Oleh karena itu, manusia harus memanfaatkan keberadaan seorang alim untuk bertanya kepadanya tentang masalah yang sulit baginya.
  6. Seorang anak yang naik haji, maka di samping dia sendiri mendapatkan pahala, begitu juga untuk kedua orang tuanya, sedangkan hajinya tetap milik anak itu, bukan milik wali. Ada pendapat yang telah beredar luas di kalangan manusia bahwa jika seorang bayi melaksanakan ibadah haji, maka hajinya menjadi milik kedua orang tuanya. Pendapat seperti ini tidak ada dasarnya, tetapi yang benar bahwa haji tetap milik anak itu karena ketika Nabi Shollollahu Alaihi wa Sallam ditanya wanita itu, 'Apakah hajinya sah?" Beliau menjawab, "Ya dan kamu mendapatkan pahala." Jadi, haji tetap milik anak itu. Ketahuilah bahwa anak walaupun belum mencapai usaha balig, tetap ditulis pahalanya, tetapi tidak ditulis dosanya.
  7. Dalam hadits ini juga terdapat dalil bahwa anak kecil walapun belum bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk, hajinya tetap sah, tetapi bagaimana niatnya bisa sah padahal dia belum mumayyiz? Pada ulama menjawab, "Walinya yang berniat untuknya dalam hatinya bahwa dia memasukkan anak itu ke dalam ihram dan walinya melaksanakan segala sesuatu yang anak itu tidak kuasa melaksanakannya sendiri.


Hadist Ke 170 : 

Diriwaytkan dari Abu Musa Al-Asy'ai Radhilallahu Anhu, dia berkata, "Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, 'Seorang bendahara Muslim yang amanah dan dapat dipercaya adalah yang melaluanakan apa yang diperintahkan, lalu memberikan secara sempurna, lapang, dan senang hati, kepada orang yang diperintahkan untuk diberi, maka dia termasuk salah seorang yang mendapat pahala sedekah tersebut'." (Diriwaytkan Bukhari dan Muslim).

Penulis An-Nawawi menukil dari Abu Musa Al-Asy'ari Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "seorang bendahara Muslim yang amanah dan dapat dipercaya adalah yang melaksanakan apa yang diperintahkan, lalu memberikan secara sempurna, lapang, dan senang hati, kepada orang yang diperintahkan untuk diberi, maka dia termasuk salah seorang yang mendapat pahala sedekah tersebut." (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim).
Kata "al-khazin" adalah mubtada', sedangkan khabarnya adalah "ahad al-mutashaddiqin." Maksudnya bahwa bendahara yang memiliki sifat-sifat seperti ini : Muslim, dapat dipercaya, melaksanakan apa yang diperintahkan, dan berjiwa tenang.

  1. Orang Islam berarti tidak kafir. Seorang bendahara kafir, walaupun dapat dipercaya dan walaupun dapat dipercaya dan melaksanakan perintah tidak mendapatkan pahala karena orang kafir tidak mendapatkan pahala di akhirat atas kebaikan yang dikerjakannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,"Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan." (Al-Furqaan: 23). Kemudian Allah berfirman, "...Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya " (Al-Baqarah 217). Adapun jika dia berbuat baik, kemudian masuk Islam, berarti kebaikan yang telah diperbuatnya pada masa lalu terselamatkan dan diberi pahala.
  2. Menjalankan apa yang diamanatkan kepadanya sehingga dia menjaga harta itu, tidak merusaknya, tidak mengkorupsinya, dan tidak berkeinginan mengambilnya.
  3. Melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya. Artinya, mengerjakannya karena di antara manusia ada yang amanah, tetapi malas. Namun yang dimakud hadits ini adalah orang yang dapat dipercaya dan mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya sehingga terkumpullah dalam dirinya kekuatan dengan amanah.
  4. Berjiwa tenang. Jika dia memberi seseorang yang diperintahkan untuk diberi, hatinya tidak nggrundel, atau tidak iri kepada orang yang diberi atau tidak menampakkan bahwa dia lebih baik daripada orang yang diberi, tetapi dia memberinya dengan senang hati. Jika ini dilakukan maka dia seperti seorang pemberi sedekah kepadanya, walaupun sebenarnya dia tidak mengeluarkan uangnya sendiri walau hanya satu sen. 
Misalnya, jika seseorang mempunyai harta dan dia mempunyai seorang penjaga kotak hartanya-yaitu seorang Muslim, dapat dipercaya, melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya, dan memberikannya dengan senang hatikepada pemiliknya, maka jika pemilik kotak itu berkata kepadanya, "wahai Fulan, berikan ini kepada orang fakir sepuluh ribu riyal," lalu dia memberinya seperti yang disebutkan Nabi shallallahu Alaihi wa sallam, maka dia mendapatkan pahala seperti orang yang bersedekah sepuluh ribu riyal itu tanpa mengurangi pahala orang yang bersedekah sedikit pun. Ini merupakan karunia Allah. 

Dalam hadits ini terdapat dalil tentang keutamaan amanah dan melaksanakan apa yang diwakilkan kepadanya serta tidak meremehkannya. Juga terdapat dalil tentang tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan bahwa bagi penolong mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakan. Ini juga merupakan karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Wallahu a'lam al-muwaffiq.

Dosa-dosa Besar ke 30 : MEMAKAN BANGKAI, DARAH, DAN DAGING BABI

  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ Kajian Sunnah Rutin Musholla Baiturrahman Ust. H. Hidayat Husein Allah Ta'ala berfirman, "Ka...